Friday, October 20, 2017

Berbakti pada ayahku

Perkenalkan namaku Ratna Andani Hidayati, usiaku sekarang 27 tahun, aku kini telah mempunyai anak buah cintaku dengan ayahku yang sekarang berusia 5 tahun yang kuberi nama Dinda Purnama Puspitasari. Nama papaku Irfan, beliau seorang pensiunan guru salah satu SMA swasta di kota Malang, dan mamaku bernama Lasmi, beliau mengajar di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di kota Malang. Ayahku menikah dengan ibuku pada usia yang relatif telat untuk menikah. Pada saat mereka berdua menikah ayahku telah berusia 32 tahun, dan ibuku berusia 30 tahun, lalu setahun kemudian lahirlah aku.

Kehidupan rumah tangga ayah, dan ibuku cukup harmonis, walaupun kadang juga diwarnai pertengkaran kecil, namun itu malah membuat mereka terlihat semakin mesra, yaach memang dalam setiap orang berumah tangga itu selalu diwarnai oleh pertengkaran kecil, yang mana itu malah menjadi penyedap indahnya romantika dalam berumah tangga. Begitupun untuk masalah ranjang mereka relatif tak ada masalah, malah aku pernah tanpa sengaja mengintip saat mereka berdua melakukan aktifitas seksual yang begitu hot.

Akupun seringkali tanpa sengaja mendengar suara desahan, dan rintihan ayah juga mamaku setiap kali aku belajar tengah malam untuk mempersiapkan pelajaran yang akan diajarkan di sekolah esok hari. Kadang-kadang aku diam-diam mengendap-endap di depan kamar kedua orang tuaku, sambil mataku mengintip ke dalam kamar orangtuaku melalui celah sempit yang ada di pintu kamar. Aku melihat mamaku sedang menduduki kontol ayahku yang memang kontol ayahku berukuran besar dan juga panjang, sambil mamaku memutar-mutarkan pantatnya, lalu mendesah;"ooooh pa, enak sekali pa tusukan kontol papa sayang, rasanya sampai menusuk dan menujah nan dalam sampai mentok di rahim mama ini."
Mamapun meneruskan memutar-mutarkan pantatnya hingga kulihat papakupun terasa ngilu, dan akan segera mencapai klimaksnya. Papapun lalu berkata;"Ma, enak banget ma, semakin lama vagina mama ini semakin legit, sekalipun kita sudah 17 tahun menikah, memek mama tetap sempit, dan dinding vagina mama menjepit kuat banget, seperti saat malam pertama dahulu."
Mamapun semakin mempercepat gerakannya dalam memutar-mutarkan pantatnya, sambil mata mama terpejam, lalu mama menjawab; "i...iya...donk pa, vagina mama ini masih tetap sempit nan legit, kan mama rajin merawat vagina mama ini, juga tiap hari naik turun tangga di kampus mama, jadi kan sama saja seperti mama ini berolahraga rutin pa."


Mendengar mama berkata seperti itu, papapun lalu menganggukan kepalanya sebagai tanda papa sependapat dengan mama, sambil papa terus menyodokkan kontol papa semakin dalam, dan tak lama kemudian kulihat kontol papaku ini sudah sepenuhnya ditelan oleh vagina mamaku. Sejurus kemudian papapun lalu berkata; "hmm...iya ma, oooh ma, kontol papa hangat banget, dan vagina mama semakin berdenyut saja menjepit kontol papa ini, ma...papa gak tahan ma, papa mau keluar nich ma, dan tak lama kemudian... Oooh...auucch...sroot...sroot...sroot... Ma...terima sperma papa ini...kontol papakupun menyemprotkan sperma sebanyak kira-kira 4x ke dalam vagina mamaku ini
Mamapun lalu mengejang badannya pertanda akan segera orgasme dan mama semakin mendesah serta mengerang, kemudian tak lama setelah itu mama berteriak;" aaauucch...hhh...pa...ssshh...ooohh pa...mama juga keluar nich pa...sssuurrr...serrr..sssuurrr...serr...sssuurr, aaauuuch pa, mama keluar pa, kontol papa enak banget sayang, benar-benar memenuhi dinding vagina mama ini, buat mama ketagihan terus, siraman sperma papa menghangatkan rahim mama ini pa."
Mamakupun lalu mencabut kontol papaku yang perlahan-lahan mengecil, dan kulihat dari liang vagina mamaku ini mengalir sperma papa yang sebagian tertumpah, sebab tak semua sperma papaku dapat tertampung di dalam rahim mama bercampur dengan cairan kewanitaan dari memek mamaku ini. Mamapun lalu mengambil tissue untuk mengelapi vaginanya yang masih basah, sesudah itu mama lalu mengelapi kontol papaku. Aku yang sedari tadi menyaksikan adegan saat papaku menyetubuhi mamaku, tanpa kusadari kuremas-remas payudaraku ini, dan sambil kuelus-elus celana dalamku tepat di bagian tengahnya serta kubayangkan aku tengah dientoti oleh papaku ini. Saat aku tersadar kurasakan celana dalamku ini telah basah, dan dapat kurasakan pula puting payudaraku ini telah mengeras, begitupun juga dengan bibir vaginaku yang liangnya perlahan mulai merekah, lalu akupun bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dan membilas vaginaku ini, kemudian akupun lalu berganti celana dalam. Tak terasa aku tadi mengintip adegan percintaan orangtuaku hampir 30 menit lamanya.

Setelah aku selesai membersihkan liang vaginaku yang becek, dan belepotan dengan cairan kewanitaanku ini di kamar mandi, maka akupun kemudian kembali ke kamarku untuk memulai belajar mempersiapkan pelajaran yang akan diajarkan di sekolah keesokan harinya. Akan tetapi aku tak dapat konsentrasi sepenuhnya karena aku selalu saja terbayang adegan saat orangtuaku tadi sedang bercinta. Aku berharap suatu saat nanti aku dapat mengulang kejadian 2 bulan yang lalu saat aku disetubuhi oleh papaku, yang mana saat itu aku tak mengetahui ternyata papaku ada di kamarku ini ketika aku sedang berganti pakaian, dan terjadilah "kecelakaan" yang kala itu aku dapat merasakan untuk pertama kalinya vaginaku ini dimasuki oleh kontol papaku yang besar, dan panjang, yang mana papaku memiliki kontol berukuran panjang 15 cm, dengan diameter sekitar 2 inchi, sehingga saat memasuki vaginaku ini maka vaginaku terasa penuh, dan sesak oleh kontol papaku itu. Sementara mamaku Lasmi memiliki payudara berukuran 34 B sama sepertiku, dengan tubuh yang lebih langsing serta warna kulit yang lebih kuning langsat dariku, namun dengan tinggi badan yang lebih pendek bila dibandingkan denganku ini, mamaku berukuran tinggi badan 158 cm; dengan berat badan 45 kg, sedangkan aku berukuran tinggi badan 163 cm; dengan barat badan 57 kg. Kami berdua memiliki bentuk wajah yang mirip, selain itu kami juga sangat akrab, dan dekat, sehingga orangpun sering mengira kami adalah kakak-adik. Walaupun mama berusia hampir terpaut 30 tahun dariku, tetapi mama tetap rajin melakukan perawatan terhadap tubuhnya, sehingga mamapun tampak seperti seorang wanita yang masih berusia 30 tahunan.

Haripun berganti dan waktupun berlalu, tanpa terasa hingga tiba saatnya menjelang aku menghadapi ujian kenaikan kelas pada bulan Nopember 2005 ini. Aku berharap dapat mengerjakan ujian dengan lancar, dan naik ke kelas 3 SMA. Saat ujian kurang 5 hari mamaku mendapatkan tugas dari kampusnya untuk mengikuti seminar di kota hujan Bogor. Akupun sebenarnya merasa agak sedikit kecewa, sebab bagaimanapun aku membutuhkan perhatian dari kedua orangtuaku manakala konsentrasiku tercurah sepenuhnya untuk ujian. Dengan berat hati akhirnya akupun pada pagi hari pukul 08.30 w.i.b, tanggal 8- Nopember-2005 aku beserta papaku mengantarkan mamaku ke terminal menumpang taksi dari rumah. Akupun lalu menunggu sebentar di ruang tunggu terminal, selang 30 menit kemudian bus yang ditumpangi oleh mamakupun berangkat menuju Bogor.

Sepeninggal mamaku ke Bogor, akupun hanya berdua di rumah dengan papaku ini. Awalnya tak ada masalah hingga kira-kira pada pertengahan bulan tepatnya tanggal 21- Nopember-2005, saat itu papaku jatuh sakit dan dirawat di salah satu Rumah Sakit Swasta milik PTPN di kota Malang ini. Aku sebagai anak perempuan satu-satunya ingin memberikan perhatian yang khusus kepada papaku ini karena kulihat papa begitu tertekan dengan penyakit yang dideritanya. Nah kebetulan juga saat itu mamaku masih ada di Bogor dalam rangka mengikuti seminar nasional. Mamaku bekerja di salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di kota Malang, di wilayah Jawa Timur. Jadi aku yang merawat papaku menggantikan peran mamaku ini selama mamaku mengikuti seminar di kota hujan. Aku yang mengantarkan ayah ke rumah sakit, dan lalu menungguinya serta menyuapinya makan, juga meminumkannya obat selama ayah dirawat di rumah sakit. Terkadang pula sepulang dari sekolah aku langsung menyempatkan diri menuju rumah sakit tanpa sempat berganti pakaian, akan tetapi aku telah menyiapkan pakaian ganti dari rumah saat aku hendak berangkat sekolah. Sehingga saat tiba di rumah sakit, akupun dapat lekas berganti pakaian.

Kejadian yang akan kuceritakan ini terjadi saat hari ke 3 papaku di rawat di rumah sakit, yang mana pada 2 hari sebelumnya aku hanya sebentar saja sekitar kurang lebih cuma 2 jam dalam menemani papaku di rumah sakit, sebab aku harus mempersiapkan diri untuk belajar menghadapi ujian yang mana mata pelajaran yang diujikan relatif sulit. Pada hari ke 3 ini mata pelajaran yang diujikan bukan mata pelajaran yang sulit, sehingga selesai ujian kira-kira pukul 10.00 w.i.b, akupun lantas berganti pakaian di toilet sekolah, lalu aku segera bergegas menuju rumah sakit dengan menumpang kendaraan angkutan kota. Sekitar 25 menit perjalanan dengan angkot, akupun sampai di rumah sakit tempat papaku ini di rawat. Akupun lalu berjalan menuju kamar papaku di ruang melati A7. Akupun lalu mengetok pintu kamarnya 3x. Tok...tok...tok...Assalamu'alaikum wr.wb, pa, ratna datang, papa sedang apa di dalam? Namun tak ada jawaban dari dalam kamar papaku. Akupun lalu membuka gagang pintu kamar papaku perlahan, ternyata pintu kamar papa tidak dikunci, dan kulihat papaku tertidur pulas di atas kasur. Akupun lalu menutup kembali pintu kamar papaku, dan perlahan kudekati papa sambil kukatakan kepada papaku, "pa, Ratna sedih dech melihat papa sakit dan menderita. Apakah ada yang bisa Nana lakukan agar papa lekas sembuh?" Papaku lalu perlahan terbangun dari tidurnya, kemudian membuka matanya perlahan yang tadi terpejam, dan papa lantas mengelus rambutku ini sambil ditatapnya payudaraku ini, lalu kemudian papa berkata:"Ya, Sayang, kamu bisa ngasih papa susu kamu itu.. Itu akan menjadi pengobatan yang sempurna untuk mempercepat kesembuhan papa ini".


Ketika papaku mengatakan itu, tangan papa sambil membuka kancing bajuku ini satu persatu, dan diremas-remasnya payudaraku, hingga payudarakupun menjadi tegang, dan mengeras. Aku mempunyai ukuran payudara dengan cup bra 34 B, dan memiliki puting berwarna coklat agak kehitaman, serta areola(daerah melingkar yang mengelilingi puting payudaraku ini) yang sensitif atau peka terhadap rangsangan , mungkin ini juga yang membuat ayah jadi bernafsu tiap kali kami bercanda, karena kami berdua sangat akrab, bahkan seperti kakak-adik. Lalu kemudian kujawab, tanpa ragu, aku berkata, "Tentu saja pa ...kalau itu memang bisa mempercepat kesembuhan papa!" Aku lalu melepaskan pakaianku ini yang telah terbuka kancingnya itu, lalu kemudian akupun melepaskan pengait Braku, dan payudaraku yang telah menegang serta mengeras pun seakan melompat keluar dari kurungannya. Aku agak membungkuk di tempat tidur papaku, dan mendekatkan payudara kananku hingga berada dekat dengan wajahnya. Tanpa sepatah katapun, papaku lalu memegang payudaraku yang besar juga bundar itu dan mulai membelai serta memijatnya. Saat papa mulai meremas puting susuku, susukupun menjadi semakin keras. Papa pun lalu memasukan putingku ke mulutnya yang terbuka lebar dan mulai menghisapnya sruupp...sruupp...sluruupp... Aku bisa merasakan lidahnya menggelitik puting ku ini. Akupun mulai mendesah...sshh...oooh pa...enak sayang, teruus pa hisap pentil tetek ratna ini... Kebahagian disertai kehangatan seakan menyebar ke seluruh tubuh ku dari pengalaman baruku ini. Sehingga dalam hitungan detikpun akupun kemudian dapat merasakan bahwa vaginaku telah gatal, dan basah. Aku mencoba untuk meraba vaginaku ini, dan ternyata oh.. vaginaku telah benar-benar basah, dan bahkan cenderung becek. Semua ini benar-benar mengejutkan ku karena rasanya sangat berbeda dari yang pernah, dan sering dilakukan oleh pacarku. Hanya dalam hitungan detik aku telah mendapati kenyataan bahwa celana dalam ku benar-benar basah, akibat dari perlakuan ayahku ini.

Aku menggigil dan gemetar karena orgasme yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Papapun beralih kepayudaraku yang satunya dan menghisap kuat sampai energiku terasa benar-benar terkuras. Papa kemudian melepaskan putingku dari mulutnya dan berkata, "Enak banget nak... - hal yang terbaik yang pernah kamu lakukan untuk papa, dulu papa suka banget ASI mama kamu, saat dia masih menyusuimu dulu, sekarang sudah lama papa ngga merasakan itu." Kamipun kemudian berpelukan, dan papa pun mengisap lagi payudaraku ini untuk waktu yang lama. Setelah hampir 1 jam papa menghisap puting payudaraku ini papapun merasa puas, dan lalu papa kembali tertidur pulas. Aku kemudian lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan badanku ini. Aku yang tadi telah telanjang di bagian atas saat papaku melepas baju, dan Bra ku ini sengaja tak kupakai lagi pakaianku ini saat papa selesai menghisap kedua payudaraku ini, namun tetap kulipat rapi baju beserta Bra ku lalu kutaruh di kursi, sehingga akupun hanya memakai rok panjang, dan celana dalam saat aku berjalan ke kamar mandi itu sambil akupun membawa handuk.

Sesampainya di dalam kamar mandi, akupun lantas melepas rok panjang juga celana dalamku, dan kulihat celana dalamku ini masih basah kuyup oleh cairan kewanitaanku yang agak lengket ini. Akupun lalu mulai menyiram tubuhku ini dengan air, dan menyabuni badanku ini, saat tanganku ini sampai pada bagian payudaraku kurasakan kedua payudaraku ini pada bagian areolanya masih sedikit mengeras, sehingga akupun teringat kembali kejadian saat papa menghisap, juga meremas payudaraku tadi. Akupun lalu melanjutkan menyabuni daerah kewanitaanku ini dengan memakai sabun sirih, saat aku mulai menggosokkan dan memutar-mutarkan tanganku sengaja jariku ini kusentuhkan pada bagian klitoris vaginaku lalu akupun mendesah perlahan...oooh...oooh mas... oohh...mass...ssshhh...ooohhh...mas...sambil kubayangkan aku sedang disetubuhi oleh pacarku. Hal ini kulakukan hampir selama 1 menit. Kemudian setelah itu akupun lalu menyiram daerah kewanitaanku ini, lalu kuakhiri mandiku yang mana aku tadi sudah 30 menit berada di kamar mandi.


Akupun lalu memakai handukku dan keluar dari kamar mandi untuk memakai pakaianku ini, yang mana kamar mandi itu masih berada satu ruangan dengan kamar tidur papaku, hanya berjarak beberapa meter saja. Setibanya di kamar tidur papaku, akupun kemudian menghanduki tubuhku yang masih dalam keadaan telanjang bugil, sambil akupun menyiapkan pakaian ganti, sebab tadi pakaianku sudah kotor. Untungnya tadi aku membawa 2 setelan pakaian dari rumah. Aku terus melanjutkan kegiatanku menghanduki tubuh telanjangku ini, tanpa kusadari ternyata papaku ini telah terbangun dan asyik menonton pemandangan indah dimana putrinya sedang telanjang di hadapannya. Selesai aku mengeringkan badanku ini dengan kain handuk, akupun lekas memakai pakaianku yang baru. Aku memakai bra berwarna coklat muda senada dengan bra yang tadi kupakai, celana dalam berwarna putih dengan bordir motif bunga, kemeja bermotif kotak warna biru muda, dan rok panjang berwarna putih. Setelah itu akupun kemudian menyisir rambutku yang panjang ini lalu kuusapkan bedak di wajahku ini. Sesudah selesai berdandan, akupun lalu menyuapi papaku ini dengan bubur yang telah tersedia di meja, lantas meminumkannya obat agar papaku ini lekas sembuh. Kami berduapun lalu berbincang sebentar, sebelum kira-kira pukul 16.30 w.i.b, aku berpamitan pulang kepada papaku, tak lupa kutanyakan kapan papa boleh pulang ke rumah?

Akupun lantas pulang ke rumah dengan menumpang taksi. Sesampainya di rumah aku bertanya di dalam hatiku, perbuatan apa lagikah yang akan dilakukan oleh papaku ini esok hari kepadaku. Akan tetapi aku tidak mau ambil pusing untuk memikirkannya, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menonton tv. Kira-kira pukul 20.45 w.i.b akupun tertidur di depan tv, hingga saat aku terbangun waktu telah menunjukkan pukul 24.00 w.i.b. Akupun kemudian berjalan ke kamarku untuk melanjutkan tidur, sebab esok pagi aku akan kembali ke rumah sakit untuk menjenguk papaku, dan lagi ujiankupun telah selesai tadi sore.

Sekitar pukul 04.00 w.i.b akupun terbangun saat adzan subuh berkumandang. Akupun lantas mempersiapkan pakaianku, dan pakaian milik papaku ini sebab hari ini papa sudah boleh pulang ke rumah. Sengaja aku hanya mencuci mukaku ini, dan berganti pakaian dikarenakan udara di pagi hari yang begitu dingin menusuk kulit, sedangkan aku pikir lebih baik nanti mandi di rumah sakit saja. Akupun segera menelepon taksi setelah segala perlengkapan yang akan kubawa ke rumah sakit ini siap. Sekitar 15 menit kemudian taksipun datang, dan aku lantas melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit waktu menunjukkan pukul 05.00 w.i.b tepat. Akupun bergegas menuju ke kamar papaku, dan sesampainya di depan kamar aku buka kenop/gagang pintu kamar perlahan, tak lupa kuucapkan salam "Assalamu'alaikum wr.wb pa". Ternyata papaku sudah terbangun dan duduk di pinggir ranjangnya. Akupun lalu menanyakan keadaan papa; "pa, bagaimana keadaan papa sekarang? Sudah merasa sehatkah pa?". Papakupun menjawab pertanyaanku ini; "alhamdulillah nduk, papa sekarang sudah merasa baikan sayang". Akupun lalu berkata;"oooh syukur dech kalau papa sudah baikan. Ratna senang banget rasanya pa!" Akupun lantas berpamitan kepada papa untuk mandi dulu sebab badanku sudah agak gatal, sambil kuucapkan;"pa, ratna mau mandi dulu iya sayang". Papapun lalu menyahutiku; "iya nduk, jangan dikunci iya pintunya, nanti kalau sewaktu-waktu papa butuh kamu, biar mudah manggilnya!"

Aku tidak menjawab seruan papa itu, dan segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi pagi. Saat aku sedang asyik mandi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi, tanpa pikir panjang lalu kubukakanlah pintu kamar mandi, dan ternyata kulihat ayahku sudah berada di depan pintu kamar mandi. Akupun tentu saja kaget setengah mati, dan berusaha menutupi payudara, dan vaginaku ini dengan kedua tanganku.

Tiba-tiba papa mendekapku dari belakang, lalu berbisik di telingaku, "nduk, kamu maukan menolong papa, Na, putriku yang cantik?".
Lalu akupun menjawab, " menolong apa nich papaku sayang, cintaku?"
Ayah tidak menjawab, hanya saja beliau berkata, "nanti saja ya sayang, papa akan katakan saat kita sudah tiba di rumah, sekarang kamu teruskan dulu mandinya, nduk."

Terus-terang hatikupun menjadi dag-dig dug tidak menentu menanti apa yang akan terjadi nanti, namun aku tetap meneruskan kegiatan mandiku ini sampai selesai, walaupun pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka, dan papaku masih tetap berdiri di depan pintu sambil pandangan mata papaku tak lepas dan terus memperhatikan tubuh telanjangku ini. Selesai mandi akupun lalu berdandan yang cantik dengan memakai gaun terusan berwarna merah muda bermotifkan bunga, kemudian kusisir rambutku yang panjang ini. Sementara papaku sendiri kini mandi, dan bersiap untuk pulang ke rumah. Setelah aku selesai berdandan, dan papa juga selesai mandi serta berpakaian kamipun lalu berjalan berdua meninggalkan kamar menuju loket administrasi untuk membayar semua biaya administrasi termasuk juga membayar biaya obat yang dikonsumsi oleh papaku selama 4 hari dirawat di rumah sakit, yang mana total biayanya mencapai Rp 5.750.000,-.

Yuyun dan Bapaknya Yang Perkasa

udah sebulan ini aku tinggal dirumah, sejak Aku dan Aa bertengkar karena Aa cemburu dan curiga aku memasukan pria lain ketempat kost. Aa menyuruhku tinggal dirumah orang tuaku agar ada yang menjagaku.

Namun saat aku kembali tinggal di rumah orang tuaku, kondisi Rumah Tangga Orang Tuaku juga sedang tidak bagus, hampir tiap hari terjadi pertengkaran diantara Ibu dan Bapak, walaupun aku tidak tahu apa penyebabnya.
Hari ini ibu dan bapak bertengkar lagi, penyebabnya ibu menolak saat bapak minta bersetubuh.

Hari itu Ibu sedang pergi ke Sukabumi, kerumah kakek dan nenek orang tuan dari pihak Ibu. Sekitar jam 10.00 malam, Bapak datang dari mengantar Ibu ke terminal bekasi. Selesai makan, Bapak mengunjungi kamarku.

"Yun.. kamu sudah tidur..?" kata Bapak sambil mengetuk pintu kamarku.

"Masuk.. Pak.. Yuyun belum tidur," teriakku dari dalam kamar sementara aku sudah berbaring di tempat tidur.
Pintu kamar terbuka, kulihat Bapakku menatapku di depan pintu dari raut mukanya seakan mau menanggis.

"Bapak.. kenapa..? kataku sambil berusaha duduk di tempat tidur.

Bapakku masuk ke kamarku lalu duduk di sampingku, dia memelukku sambil meneteskan air mata.

"Ibumu makin parah saja sayang, Dia tidak mau bapak ajak berhubungan badan lagi. Sedengkan bapak masih butuh kebutuhan itu Yun." tangis Bapakku yang mambasahi dasterku. Aku pun mulai terisak.

"Bapak.. Mungkin Ibu sedang gak mood, Bapak harus sabar menghadpi Ibu. Yuyun yakin lama lama Ibu mau Bapak ajak berhubungan badan lagi" bujukku menghibur

Bapak menatapku lalu diciumnya keningku dan berkata,
"Iya.. Bapak harus tegar yach.. Yun, Bapak sayang sama Ibu dan Kamu berdua." Ujarnya.

Lalu Bapak mencium kedua pipiku, tetapi ketika akan berpaling secara tidak sengaja bibir Bapak menyentuh bibirku. Aku tiba-tiba ada perasaan aneh pada diriku, aku merasa terangsang lebih-lebih aku terbayang cumbuan Hendra dan Anto beberapa waktu lalu. Kubalas kecupan Bapakku, kukecup bibirnya dengan dalam dan lidahku kucoba masukkan ke mulut Bapakku, Bapakku yang agak gelagapan dan mulai terangsang, mengikuti dengan balasan lidahnya sehingga lidah kami bertautan. Rupanya Bapakku makin terangsang, disibaknya selimut yang masih menutup tubuhku sehingga aku yang memakai daster mulai digerayangi Bapakku. Lidah kami masih bertautan membuat makin bergelora nafsu seks kami. Aku biarkan saja ketika tangan Bapakku mulai merayap di paha putihku yang semakin naik sehingga menyentuh celana dalamku. Jari tengahnya mulai menggaruk vaginaku yang masih tertutup celana dalam. Aku mulai mengelinjang.

Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Bapak mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. semakin kupejamkan mataku semakin melayang perasaanku, dan menikmati kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Bapak yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku.

Bapak mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai barang milikku yang paling sensitif yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun pasti.

"Mmhh.. Pak..sudah terlalu jauh Pak.." desahku di sela-sela ciuman panas kami. Aku agak lega saat tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, buah dadaku yang montok dan puting payudaraku menggoda, membuatnya semakin penasaran. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku.

Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bergairah, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku mengacung. Tanpa kusadari aku mulai memainkan kaos bajunya, dan setelah bajunya kusingkap terlihat dada bidang dan kekar di depan mataku

Bapak menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, "..Oooh Bapak suuddhaah.. Pak.. stoop..!!" tetapi Bapak terus saja merangsangku bahkan tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini ia benar-benar telanjang bulat. Penisnya yang besar dan berotot mengacung tegang, karuan aku terbelalak melihatnya, besar dan perkasa lebih perkasa dari penis Aa', vaginaku tiba tiba berdenyut tak karuan. Oh..tak kupikirkan akibat dari keisenganku tadi yang hanya ingin mencium pipinya saja sekarang sudah berlanjut sedemikian jauh.

Bapak melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Ia dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran CD ku, semili lagi menyentuh bibir vaginaku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi, rasa penasaranku menginginkan lebih dari itu tapi akal sehatku masih menyatakan bahwa ini perbuatan yang salah.

Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Bapak mengalihkan jilatannya kerambut kemaluanku yang telah begitu basah penuh lendir birahi. "ggaahh.. Paaakk..stoop..ohh.." bagaikan terkena setrum rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan saat lidah Bapak melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku.

"Ohh.. ohh.. ngh.. ngh.. ngh.. ohh.. Bapak.. Paaakk.." Pikiranku benar benar bercabang tetapi herannya aku tetap mengangkatkan pantatku, sementara tanganku menolak kepalanya sambil mengacak-acak dan menjambak-jambak rambutnya. Lendir gairah mengalir dari lobang vaginaku, sementara lidah dan mulut Bapak yang tak henti mengejar sambil menjilat dan menghisap vaginaku. Kenikmatan merebak cepat sekali, berpangkal dari vaginaku ke seluruh tubuhku, membuat pandanganku gelap dan kepalaku terasa melayang. Aku merasakan ada yang ingin meletup pada diriku. Mungkin Bapak mengetahui juga, segera Bapak melepas lidahnya dari vaginaku, lalu mencoba melepas celana dalamku yang sudah basah kuyup tak karuan, "..Jangaan..Paak..!" tetapi kuangkat juga pantatku untuk memudahkan aksinya.

Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar Bapak berlutut di depanku. Lobang vaginaku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut melihat batang kontol Bapak yang tegang besar kekar berotot berbeda dengan punya suamiku yang lebih kecil. Oohh..betul betul luar biasa napsu birahiku makin mengebu gebu. Entah mengapa aku begitu terangsang melihat batang kontol yang bukan punya suamiku. Oooh begitu besar dan perkasa, pikiranku bimbang karena aku tahu sebentar lagi aku akan disetubuhi oleh Bapak kandungku, anehnya gelora napsu birahiku terus mengelegak.

Kupasrahkan diriku ketika Bapak membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu Bapak menurunkan pantatnya dan menuntun kontolnya ke bibir vaginaku. Kerongkonganku tercekat saat kepala kontol Bapak menembus vaginaku.

"Hngk..! besaar..sekalii..Paaakkk.." Walau telah basah berlendir, tak urung kontolnya yang demikian besar kekar berotot begitu seret memasuki liang vaginaku yang belum pernah merasakan sebesar ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit.

Tanpa terburu-buru, Bapak kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah kontolnya bergerak perlahan dan lembut menembus vaginaku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di vaginaku, melicinkan jalan masuk penis berotot ini ke dalam liang kenikmatanku tahap demi tahap.

Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan yang semakin bergairah. Akhirnya napsu birahikulah yang menang laki laki perkasa ini benar benar telah menyeretku kepusaran kenikmatan menghisap seluruh pikiran jernihku dan yang timbul adalah rangsangan dahsyat yang membuatku ingin mengarungi permainan sex dengan Bapakku ini lebih dalam.

"..Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. Paakkk.. masukin Kontolnya Pak yang dalaam..!! oouch.. niikmaat.. Paaakk..!! aku merasakan suatu rangsangan yang hebat didalam diriku. Seluruh rongga vaginaku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding vaginaku digesek batang kontol bapak yang keras dan besaar..!

Akhirnya seluruh batang kontol bapak yang kekar besar itu tertelan kedalam lorong kenikmatanku, memberiku kenikmatan hebat, seakan bibir vaginaku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Bapak mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, "..oouch.. niikmaat.. Paakk..!!" aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal-sengal diselingi desah desah penuh kenikmatan.

"hh.. sshh.. hh.. Paakkk.. oohh ..suungguuhh.. niikmmaat sahyangghh.." Bapak membalas dengan pertanyaan

"Ohh.. Yuyun nikmatan mana dengan kontol suamimu..?" otakku benar benar terhipnotis oleh kenikmatan yang luar biasa..!

jawabanku benar benar diluar kesadaranku "Ohh ssh pak.. kontol bapak besaar sekalii..! jauh lebih nikmaat ..!! Bapak makin gencar melontarkan pertanyaan aneh aneh,

"..hh..Yuyun lagi diapain memekmu sama kontolnya Bapak..?" aku bingung menjawabnya,

"Bilang lagi dientot..!" Bapak memaksaku untuk mengulangnya, tapi dasar aku lagi terombang ambing oleh buaian birahi akupun tidak malu malu lagi mengulangnya

"hh.. hh.. sshh.. mmhh..lagi dientot Paakkk.."

Tiba tiba aku makin berani mengulangnya bahkan dengan tambahan kata kata " och.. entotin terus sayaang entotin memekku pake kontolmu yang perkasa ituu..!!" apa yang terjadi benar benar luar biasa, Bapak menjadi makin beringas mendengar ucapanku itu, genjotannya makin membabi buta batang kontol yang besar berurat "menghajar" habis lobang vaginaku tanpa ampun dan akupun makin histeris dibuatnya kata kataku makin vulgar " ooh.. ssh.. aachh.. Bapaku.. ennaak.. sekaallii.. entootin teruss memekku.. aah kontolmu dahsyaat sekalii..!!, oh apa yang terjadi pada diriku? begitu antutiasnya aku merespon kata kata vulgar Bapaakkk ini, tak pernah kusadari begitu nikmatnya disetubuhi laki laki yang bukan suami sendiri.

Terus menerus kami saling memberi kenikmatan, sementara lidah Bapak kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat makin menjadi jadi merebak berpusat dari vagina dan putingku, keseluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu dahsyat sehingga terasa seakan tubuhku melayang. Penisnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot vaginaku dan menggesek-gesek dinding vaginaku yang mencengkeram erat.

Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. Aku begitu menikmatinya sampai akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan saat kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku. Desahanku sudah berganti dengan erangan erangan liar kata kataku semakin vulgar. "Ahh.. Ouchh.. entootin terus sayaang.. genjoott.. habis memekku..!! genjoott.. kontolmu sampe mentok..!!" Ooohh.. Bapaakkk.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. ngeentoot denganmu..!!" mendengar celotehanku, Bapak yang pendiam berubah menjadi semakin beringas seperti banteng kedaton dan yang membuat aku benar benar takluk adalah staminanya yang bukan maiin perkasaa.., tidak pernah kudapatkan seperti ini dari suamiku.

Aku benar benar sudah lupa siapa diriku yang sudah bersuami ini, yang aku rasakan sekarang adalah perasaan yang melambung tinggi sekali yang ingin kunikmati sepuas puasnya yang belum pernah kurasakan dengan suamiku. Bapak mengombang ambingkan diriku dilautan kenikmatan yang maha luas, seakan akan tiada tepinya. Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku yang begitu dahsyatnya menggulung diriku "Ngghh.. nghh.. nghh.. Bapaku.. Akku mau keluaar..!!" pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dalam tubuhku, Bapak mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan batang kemaluannya dalam dalam dengan memutar mutar keras sekalii.. Clitorisku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. "..aacchh.. Bapaku.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!"

Ledakan kenikmatan orgasmeku terasa seperti 'forever' menyemburkan lendir orgasme dalam vaginaku, kupeluk tubuh Bapak erat sekali wajahnya kuciumi sambil mengerang mengerang dikupingnya sementara Bapak terus menggerakkan sambil menekan penisnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili penisnya menggesek dinding vaginaku menghasilkan suatu kenikmatan yang luar biasa yang kurasakan dalam tubuhku yang tidak bisa kulontarkan dengan kata kata.

Beberapa detik kenikmatan yang terasa seperti 'forever' itu akhirnya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan penis Bapak masih di dalam vaginaku yang masih berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Bapak mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan merasa sangat disayangi. Ia sama sekali tidak menggerakkan penisnya yang masih besar dan keras di dalam vaginaku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.

Setelah aku kembali "sadar" dari ledakan kenikmatan klimaks yang memabukkan tadi, aku pun mulai membalas ciumannya, memancing Bapak untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Sekarang aku tidak canggung lagi bersetubuh dengan teman suamiku ini. Gairahku yang sempat menurun tampak semakin terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan penisnya pada dinding vaginaku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan aku semakin berani melayani gairahnya yang memang tampaknya makin liar saja.

Genjotan penisnya pada vaginaku mulai cepat, kasar dan liar. Aku benar benar tidak menyangka bisa terangsang lagi, biasanya setelah bersetubuh dengan suamiku setelah klimax rasanya malas sekali untuk bercumbu lagi tapi kali ini Bapak memberiku pengalaman baru walau sudah mengalami klimax yang maha dahsyat tadi tapi aku bisa menikmati rangsangannya lagi oleh genjotan penisnya yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir birahiku menetes lagi bertubi-tubi dari dalam vaginaku.

Lalu Bapak memintaku untuk berbalik, ooh ini gaya yang paling kusenangi "doggy style" dengan gaya nungging aku bisa merasakan seluruh alu alur batang kemaluan suamiku dan sekarang aku akan merasakan batang yang lebih besar lebih perkasa oohh..! dengan cepat aku berbalik sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas "..Yeess..pak..masukin kontol g ede bapakdari belakang kelobang memekku.." Bapakpun menatap liar dan yang ditatap adalah bokongku yang sungguh sexy dimatanya, bongkahan pantatku yang bulat keras membelah ditengah dimana bibir vaginaku sudah begitu merekah basah dibagian labia dalamku memerah mengkilat berlumuran lendir birahiku mengintip liang kenikmatanku yang sudah tidak sabar ingin melahap batang kemaluannya yang sungguh luar biasa itu.

Sambil memegang batang penisnya disodokannya ketempat yang dituju. Bleess.." ..Ooohh.. Bapaku.. teruss.. Paaakkk.. yang.. dalaam..!! mataku mendelik merasakan betapa besaar dan panjaang batang penisnya menyodok liang kenikmatanku, urat urat kemaluannya terasa sekali menggesek rongga vaginaku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Hambatan yang selalu kuhadapi dengan suamiku didalam gaya 'doggy style' ini adalah pada waktu aku masih dalam tahap 'menanjak' suamiku sudah terlalu cepat keluar, suamiku hanya bisa bertahan kurang dari 2 menit.

Tetapi Bapak sudah lebih dari 15 menit menggarapku dengan gaya 'doggy style' ini tanpa ada tanda tanda mengendur. Oh bukan maiin..! bagai kesurupan aku menggeleng gelengkan kepalaku, aku benar benar dalam keadaan ekstasi, eranganku sudah berubah menjadi pekikan pekikan kenikmatan, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga batang penis yang besaar dan panjaang itu lenyap tertelan oleh kerakusan lobang vaginaku. kenikmatanku bukan lagi pada tahap "menanjak" tapi sudah berada diawang awang dipuncak gunung kenikmatan yang tertinggi.

"Hngk.. ngghh..Bapaku..akuu mau keluaar lagii.. aargghh..!!" aku melenguh panjang menyertai klimaksku yang kedua yang kubuat semakin nikmat dengan mendorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan penisnya yang besar sedalam-dalamnya di dalam vaginaku, sambil kukempot kempotkan vaginaku serasa ingin memeras batang kemaluannya untuk mendapatkan seluruh kenikmatan semaksimum mungkin.

Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukan Bapak yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun Bapak menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan yang maha nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan suamiku.

Bapak memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. "Yuyun, Bapak belum keluar sayang..! tolongin isepin kontolku sayaang..!" Aku benar benar terkejut aku sudah dua kali klimaks tapi Bapak belum juga keluar, bukan main perkasanya. biasanya malah suamiku lebih dulu dari aku klimaksnya kadang kadang aku malah tidak bisa klimaks dengan suamiku karena suamiku suka terburu buru.

Merasa aku telah diberi kepuasan yang luar biasa darinya maka tanpa sungkan lagi kuselomot batang kemaluannya kujilat jilat buah zakarnya bahkan selangkangannya ketika kulihat Bapak menggeliat geliat kenikmatan, "..Ohh yess Yuun.. nikmat sekalii.. teruss Yun.. lumat kontolku iseep yang daleemm.. ohh.. Yuuyuun.. saayaangg..!!" Bapak mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja menyelomot batang kemaluannya yang besar, untuk makin merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan batang kemaluannya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak hentakan kebelakang, benar saja melihat gerakan erotisku Bapak makin mendengus dengus bagai kuda jantan liar, dan tidak kuperkirakan yang tadinya aku hanya ingin merangsang Bapak untuk bisa cepat ejakulasinya malah aku merasakan birahiku bangkit lagi vaginaku terasa berdenyut denyut clitorisku mengeras lagi.

Ohh.. beginikah multiple orgasm yang banyak dibicarakan teman temanku? slomotanku makin beringas, batang yang besar itu yang menyumpal mulutku tak kupedulikan lagi kepalaku naik turun cepat sekali, Bapak menggelinjang hebat, akhirnya kurasakan vaginaku ingin melahap kembali batang kemaluannya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas penisnya dari mulutku langsung aku merangkak keatas tubuhnya kuraih batang kemaluannya lalu kududuki sembari kutuju ke vaginaku yang masih lapar itu. Bleess.. aachh..aku merasakan bintang bintang dilangit kembali bermunculan.

"..Ooohh..Yuyun..kau sungguuh sexxyy.. masuukin kontolku..!!" Bapak memujiku setinggi langit melihat begitu antutiasnya aku meladeninya bahkan bisa kukatakan baru pertama kali inilah aku begitu antutias begitu beringas bagai kuda betina liar melayani kuda jantan yang sangat perkasa ini. "..Yess.. Bapaku.. yeess.. kumasukkan kontolmu yang perkasa ini..!" kuputar putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan derass sehingga batang penis yang besar itu melesak dalaam sekali..

"..aachh.. Yuuyuun.. putaar.. habiisiin kontool Bapak sayang.. eennakk.. sekaallii..!!" giliran Bapak merintih mengerang bahkan mengejang ngejangkan tubuhnya, tidak bisa kulukiskan betapa nikmatnya perasaanku, tubuhku terasa seringan kapas jiwaku serasa diombang ambing didalam lautan kenikmatan yang maha luas kucurahkan seluruh tenagaku dengan memutar menggenjot bahkan menekan keras sekali pantatku, kali ini aku yang berubah menjadi ganas dan jalang, bagaikan kuda betina liar aku putar pinggulku dan bagai penari perut meliuk meliuk begitu cepat.

Batang kemaluannya kugenjot dan kupelintir habiss.. bahkan kukontraksikan otot otot vaginaku sehingga penis yang besar itu terasa bagai dalam vacum cleaner terhisap dan terkenyot didalam liang vaginaku. Dan yang terjadi adalah benar benar membuatku bangga sekali, Bapak bagai layang layang putus menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, sekali kali ingin melepaskan tubuhku darinya tapi tidak kuberikan kesempatan itu bahkan kutekan lagi pantatku lebih keras, batang penisnya melesak seluruhnya bahkan rambut kemaluannya sudah menyatu dengan rambut kemaluanku, clitorisku yang lapar akan birahi sudah mengacung keras makin merah membara tergencet batang kemaluannya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, buah zakarnya kuraih dan keremas remas, "..Ooohh.. aachh.. yeess.. Heess.. yeess..!!"

Bapak membelalakan matanya sama sekali tidak menyangka aku menjadi begitu beringass..begitu liaar.. menunggangi tubuhnya, lalu Bapak bangkit, dengan posisi duduk ia menylomot buah dadaku. aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua buahdadaku. "..slomot.. pentilku.. dua. duanya.. Paak..yeess..!!sshh.. oohh..!! mataku menjadi berkunang kunang, "..Ooohh.. Yuyun sayang.. nikmatnya bukan main posisi ini..! batang kontol Bapak melesak dalam sekali menembus memekmu sayang..!" Bapak mendengus dengus kurasakan batang penisnya mengembung pertanda spermanya setiap saat akan meletup, "..Ohh.. sshh..aahh.. Bapaku ..keluaar.. bareeng.. sayaannghh..!! jiwaku terasa berputar putar..! "..yess..Yuun..aku keluarkan diluar apa didalam..?". "..Ohh.. Bapak kontoolmu.. jaangaahhn.. dicabuut..keluarin.. didalaam..!!

Tiba tiba bagaikan disetrum jutaan volt kenikmatan tubuhku bergetar hebat sekalii..!dan tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat didalam rahimku, "..aachh. jepiit kontoolku.. yeess.. sshh.. oohh.. nikmaatnya.. memekmu Yuyun..!!" Bapak memuncratkan air maninya didalam rongga vaginaku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun mengelinjang hebat sampai lupa daratan "..Nggkkh.. sshh.. uugghh.. Paakk.. teekeen kontoolmu.. sampe mentookkhh.. sayaahng.. aarrgghh..!! gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung jiwaku, ooh benar benar tak kusangka makin sering klimaks makin luar biaasaa rasa nikmatnya jiwaku serasa terbetot keluar terombang ambing dalam lautan kenikmatan yang maha luas. Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai batang penisnya pantatnya pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali.

Seluruh tetes air maninya kuperas dari batang kemaluannya yang sedang terjepit menyatu didalam liang vaginaku. aarrgghh.. Nikmatnya sungguh luar biaasaa..!! Oohh Bapak aku kuatir akan ketagihan dengan batang penismu yang maha dahsyat ini..!! Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, klimaks yang ketiga ini membuat tubuhku terasa lemas sekali, Bapak sadar akan keterbatasan tenagaku, akhirnya ia membaringkan tubuhku didadanya yang kekar, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, kepuasanku terasa sangat dihargainya. Tiga kali klimaks bukanlah hal yang mudah bagiku untuk mendapatkannya didalam satu kali permainan sex.

Bapak telah menaklukan diriku luaar.. dalaam..!! Dan kami tertidur pulas.....

TAMAT

Ketika Bapak Mertua Sakit

“Mas, cepat pulang, papa sakit lagi”, teriak istriku di ponsel ku setengah berteriak. “oke, aku pulang..... Yantoo, kamu jagain bengkel ya, aku mau nganter mertua ke rumah sakit, perintahku pada keponakan sekaligus asisten ku di bengkel yang aku kelola. “suruh si ujang beli makan siang sana”, perintahku lagi sembari menuju mobil. Aku melirik jam , menunjukan pukul 11.30. “Papa udah dibawa ke rumah sakit sama pak Gondo dan Arif, mas”, ujar istriku setiba di rumah kemudian menyebutkan nama sebuah rumah sakit ternama di Jakarta langganan mertua jika berobat. Papa, biasa aku memanggilnya, sudah 3 tahun ini terkena gejala jantung. Umurnya sekitar 62 tahun, kesibukannya mengurus bisnis membuatnya melupakan kesehatannya, mana orangnya bandel lagi, gak mau pantangan. “Terus aku ngapain neh?”, tanyaku pada isteri yang masih menggendong bayi mungilku yang baru berumur 4 bulan. “mas jemput mama ke bandara sana, jam setengah 3 berangkat dari surabaya, tapi mas makan dulu deh”. Usai makan siang, segera kusiapkan beberapa helai pakaian untuk berjaga-jaga jika terpaksa menginap, jarak Tangerang-Jakarta pusat kan cukup lumayan. “aku berangkat dek, jagain rumah ya, aku munkin nginap seperti dulu waktu Papa diopname, kalau ada apa-apa sms atau suruh si Yanto aja”,.”Hati-hati mas”,”mmmuaah...”setelah mencium anak dan istriku aku segera berangkat.

Jam menunjukan pukul 15.15, bentar lagi ibu mertua yang biasa kupanggil mama akan tiba. Mama seorang wanita yang enerjik dan pandai berwira usaha, hampir setiap minggu pergi ke berbagai daerah untuk berbisnis apa saja mulai dari garment sampai perhiasan. Usianya jauh lebih muda dari papa, sekitar 47 tahun. “Gimana papa , Den?” Tanya mama dalam perjalanan ke rumah sakit. “ya..biasa ma, sesak nafas, gejala serangan jantung, tapi udah ditungguin si Gondo & Arief, juga udah ditangani Dokter Farid langganan papa”, jawabku mencoba menenangkan mama. Mama menarik nafas lalu berkata “syukurlah..moga gak apa-apa”. Papa masih tidur ketika kami tiba di kamar rawat inapnya. Usai menjenguk papa di rumah sakit, kami lalu beristirahat di lobi. Rumah sakit ini bertaraf internasional, jadi kami tak perlu menunggui papa seharian, Gondo & Arif, supir dan karyawan papa menginap di hotel kelas melati dekat rumah sakit. Tinggal aku dan mama yang belum menentukan dimana harus menginap, tadinya aku juga ingin menginap di hotel yang sama, tapi untuk sekelas mama sepertinya kurang pantas, sialnya pula , kamar yang disewa karyawan papa itu adalah kamar terakhir yang masih kosong.

Beberapa saat kemudian aku dan mama memutuskan mencari hotel yang layak yang terdekat. Benar-benar sial, semua full booked, baru aku sadar sekarang liburan sekolah baru saja dimulai. Lama kami berputar-putar sampai akhirnya menjelang senja, kami mendapatkan sebuah hotel bintang 3 yang masih punya kamar kosong. Tapi keberuntungan belum berpihak pada kami, karena yang ada hanya tinggal satu-satunya kamar dengan single queen bed. “Gimana ma? Apa kita cari lagi?” Tanyaku pada mama. Mama yang tampak lesu menjawab pasrah,”ya udah lah Den, mama juga udah capek, kita ambil aja, mama udah gak tahan...gerah”. “oke deh pak, kita ambil, tapi bisa ngasih kasur tambahan gak?”, tanyaku pada resepsionis hotel yang sambil tersenyum ramah menjawab sambil menggelengkan kepala ,”maaf pak, itupun udah habis, ada yang satu kamar sampe minta 2. Kamar bapak pun kebetulan karena bookingnya dicancel, tapi kalau ada tamu yang checkout kami usahakan pak”, jawabnya sambil menyerahkan kunci kamar. Kami bergegas menuju kamar hotel yang berada di lantai lima, didampingi porter yang membawa koper& barang-barang mama. “wah, gimana nih ma, Deni jadi gak enak neh”, ujarku setibanya di dalam kamar hotel yang interiornya cukup mewah tesebut . “Ya apa boleh buat Den”, jawab mama tak bersemangat sembari membongkar isi kopernya. “Atau Deni pulang aja ma, besok pagi datang lagi”, ujarku lagi. “jangan Den, entar kalau ada apa-apa terus gimana, ya udah kamu tidur di sini aja, kamu malu tidur sama mama?..ujar mama. “ya udah deh, Deni tidur di sofa aja ma,”Ngapain? Kamu gak lihat ukuran sofanya segede apa? Udah kamu tidur di ranjang sama mama, kamu kan udah mama anggap anak mama sendiri, ngapain malu sih?”, jawab mama mencoba meyakinkanku. Apa boleh buat, pikirku. Aku cuma gak ingin mengganggu kenyamanan mama, dan rasanya risih juga tidur bareng ibu mertua. Bukan karena aku punya pikiran ngeres , walau harus diakui mama masih sangat menarik di usianya yang menjelang setengah abad, kulitnya kuning langsat dengan potongan tubuh masih ideal sebab mama rajin merawat diri dan olah raga, bisnis yang ia jalankan menuntutnya untuk tetap fit dan berpenampilan menarik. Jika disandingkan dengan istriku, lebih mirip adik dan kakak dibanding ibu dan anak. “mama mandi dulu Den”, ujarnya. Beberapa menit kemudian Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya menuju kamar mandi.Baru kusadari pintu kamar mandi ini adalah kaca dof yang tembus pandang , di dalamnya ada shower dan bath tub. Dengan sedikit iseng aku mendekat, dan dari balik pintu kaca itu tampak bayangan wanita bugil walau tak begitu jelas. Sesuatu sempat bergerak di antara selangkanganku, namun hati nurani menyuruhku untuk kembali ke sofa. Kunyalakan TV,dan rasa lelah akibat seharian mengemudi membuatku mengantuk dan tertidur di atas sofa.

“Den..bangun Den, sana mandi!”, aku terbangun gelagapan, mama berada dihadapanku masih mendorong-dorong pelan bahuku. Rambutnya terlilit handuk dan tubuhnya terbalut kimono tidur, namun karena posisinya setengah menunduk menampakan pemandangan belahan dadanya yang indah. “eh...iya ma, sorry ma, ketiduran”,ujarku seraya bangkit menuju kamar mandi. Usai mandi kami lalu memesan makan malam melalui room service, rasanya masih malas untuk cari makan di luar meskipun sempat aku tawarkan pada mama. Setelah bercakap-cakap beberapa saat lalu kami tidur.

Rasa letih membuat kami segera terlelap. Jam menunjukan pukul 1 dinihari ketika aku terbangun karena rasa kebelet. Keadaan kamar gelap kecuali sedikit cahaya lampu tidur. Aku bergegas ke kamar mandi dan usai menuntaskan hajat kembali ke tempat tidur, namun lampu kamar mandi yang kunyalakan membuat suasana kamar menjadi lebih terang,selagi aku mengesetkan kaki di depan pintu kamar mandi mataku tertuju pada suatu pemandangan, mama yang tengah tertidur dalam posisi menyamping membelakangiku. Suatu hal yang biasa, namun menjadi luar biasa ketika di bagian bawah pinggangnya kimono mama tersingkap hingga menampakan celana dalam putih yang dipakainya, membuaku terpaku sejenak menyaksikannya. Pahanya yang mulus, dan gundukan pantatnya yang tak tertutup sempurna , serta bayangan garis belahan pantat mama, membuat sesuatu bergerak di antara selangkanganku dan mendesak celana pendek yang kupakai. Pikiran kotor mulai menguasai diriku. Perlahan aku berjalan menuju ranjang, kubiarkan lampu kamar mandi tetap menyala. Kuamati dari dekat pemandangan indah malam itu, dengan gemetar tanganku terjulur mencoba meraba paha mama. Lalu mengelu-elusnya pelan. Kemudian merayap di atas gunungan indah bokong mama, sangat kenyal dan lembut. Batang penisku sudah tak punya toleransi lagi, mengeras tegang menuntut pelampiasan. Sejak dikaruniai anak pertama 4 bulan lalu, aku memang sangat jarang menyalurkan hasrat seksual pada isteri, karena merasa kasihan mengingat lelahnya mengurus buah hati tercinta yang kerap bangun tengah malam, meskipun kami mengupah babysitter, tapi berhubung masih minum ASI mau tak mau isteriku ikut terbangun.

Aku berbaring menyamping di belakang mama yang nampak tertidur pulas. Sedikit demi sedikit ku geser tubuhku makin merapat ke tubuh mama hingga kepala penisku yang masih terbungkus celana menempel di pantat mama. Nafasku tertahan menahan suasana tegang malam itu, tapi nafsu terlanjur menguasaiku, dan aku tak aka mundur. Maka ku turunkan celana pendekku hingga separuh paha, dengan leluasa kini batang kontolku mengusap-usap belahan pantat mama yang masih terbungkus celana dalam itu. Rasa nikmat menjalari setiap centi batang kemaluanku, sampai akhirnya kuputuskan berbuat nekat lebih jauh, ku angkat sedikit tepi bawah celana dalam mama, lalu kuselipkan batang penisku dibaliknya hingga merasakan langsung kulit pantat mama, membuat rasa nikmat itu semakin menguat, apalagi ditambah lendir pelumas yang keluar dari lubang kencing ku. Ku ayunkan pelan-pelan pinggulku sampai akhirnya aku tak mampu menahan lagi dan terlalu terlambat untuk menarik kemaluankuku...aku mengejang lalu ejakulasi dan dengan pasrah permukaan pantat mama menampung tumpahan spermaku , segera aku mencabut kemaluanku dari balik celana dalam mama yang segera basah kuyub oleh air mani ku yang cukup banyak tertumpah. Sedikit rasa panik muncul dalam hatiku namun ketika memperhatikan mama yang masih nyenyak dengan nafasnya yang teratur membuatku sedikit lega. Lalu tertidur puas setelah merapikan celana.

"Den...Deni..bangun Den", perlahan mataku membuka dan melihat mama dengan kimono mandinya di hadapanku, mengguncang-guncangkan pundakku. “heh..iya ma..emmh”, aku bangkit dan menuju kamar mandi. Masih belum hilang kantukku ketika menghidupkan shower untuk mandi. Usai mengeringkan tubuh aku mencoba mencukur dagu dan kumis di depan wastafel, tiba-tiba mataku tertuju ke rak handuk, dan melihat celana dalam putih mama dilampirkan di situ, dalam keadaan basah. Nampaknya mama baru mencucinya. Selintas timbul kekhawatiran jika mama tahu apa yang kulakukan tadi malam, namun kucoba untuk menepisnya. Usai sarapan kami menuju ke rumah sakit, dan kembali pada sore harinya. Sepanjang perjalanan, pikiranku terpaku pada peristiwa tadi malam dan menyusun rencana untuk mengulanginya malam ini. Sesampainya di hotel, mama segera mandi. Aku membayangkan bagaimana kira-kira tubuh telanjang mama sehingga membuat si junior kembali tegang. Tak berapa lama, mama keluar, dan cukup mengejutkan, mama keluar hanya dengan lilitan handuk, menampakan bahu & pahanya yang putih mulus membuat aku menelan air liur. Tangannya membawa pakaian yang dikenakannya tadi . "Udah sana, mandi Den, kok ngelamun begitu", ujar mama menyadarkanku, andai dia tahu justeru aku seperti terhipnotis melihat sebagian tubuhnya. Aku beranjak menuju kamar mandi, hmm...celana dalam putih tadi pagi sudah tidak ada di rak handuk, berganti celana dalam berwarna pink yang sepertinya tadi dipakai mama, masih basah bekas dicuci.

Malam itu kembali kami tidur bersama, walau aku tak sepenuhnya tidur, tegang menanti situasi yang tepat. Mama tertidur menyamping membelakangiku, ku coba menyingkapkan gaun tidurnya ke atas , inchi demi inchi, centi demi centi sampai pantat bahenolnya kembali tersingkap. Kembali ku pepetkan tubuhku ke tubuh mama, sampai hidungku menyentuh rambutnya yang hitam terawat dan harum itu. Ku lekatkan batang penisku ke pantat mama, namun tiba-tiba mama berbalik dan berbaring telentang, membuat nafasku seolah terhenti karena terkejut. Tetapi hal itu justeru menghasilkan pemandangan indah lainnya. Gundukan vagina mama dibalut celana dalam krem yang tipis itu, dan yang membuat nafsu berahiku makin terbakar ketika melihat beberapa helai rambut kemaluan mama keluar di tepi bawah celana dalam mama. Di tambah lagi wajahnya yang ayu tengah terpejam tidur dengan mulut setengah terbuka, ayunan nafasnya membuat dadanya yang berisi naik turun, ingin rasanya kulumat bibir mama, namun aku tak segegabah itu. Ku singkapkan lagi gaun tidur mama sehingga menampakan perutnya yang masih lumayan rata dan putih mulus itu. Ku usap-usap perutnya pelan dengan tangan gemetar, lalu dengan mengumpulkan segenap keberanian mengusap-usap gundukan vagina mama. Nafsuku seolah melewati ubun-ubun, hingga kemudian kuselipkan penisku dibalik celana dalam mama di sisi pinggulnya, gesekan dengan kulit putih mama yang mulus itu membuatku kembali ejakulasi dan membasahi celana dalam mama. Lalu kembali tertidur dengan rasa puas setelah merapikan pakaian mama. Pagi itu rak handuk itu kembali bertambah penghuni, celana dalam krem mama.

Malam ketiga, tindakanku semakin nekat. Mama sendiri juga membuat sedikit kejutan, kali ini ia memakai gaun tidur tanpa lengan yang cukup sexy, menampakan bahunya yang putih dan sedikit belahan dadanya yang montok itu, apalagi panjangnya sedikit di atas lutut membuat aku semakib berliur. Kutunggu hingga lewat tengah malam, sampai aku yakin bahwa mama benarâ€"benar terlelap. Kini ia tertidur terlentang, sekali lagi inci demi inci kusingkapkan gaun tidurnya ke atas, terus berlanjut secara perlahan hingga kutemukan kejutan berikutnya...mama memakai celana dalam yang cukup mini dan transparan karena dari bahan semacam jaring, tentu saja bayangan hitam bulu-bulu pubisnya nampak jelas, pengikatnya pun tak lebih lebar dari tali sepatu, membuat aku makin senewen, kali in terlintas pikiran jangan-jangan mama memang ingin memancingku, jangan-jangan ia tahu apa yang kulakukan 2 hari terakhir. Tapi rasa takut itu dikalahkan oleh berahi, kali ini secara perlahan kupelorotkan celana dalam itu, masih dengan tangan gemetar hingga melewati ujung jari kakinya. Sungguh pemandangan luar biasa yang bisa membuat gila lelaki manapun. Lalu ku lebarkan kedua kaki mama, selebar munkin, hingga menampakan belahan rongga vaginanya . Ku putuskan untuk mencicipi aroma dan rasanya, dengan sangat hati-hati aku merangkak hingga wajahku cukup dekat dengan organ kewanitaan mama. Aroma khas wanita bercampur aroma harum sabun mandi segera memenuhi rongga hidungku, dan segera lidahku beraksi mengecap-menjilat-menghisap sampai lambat laun pinggul mama bergerak-gerak ke kanan ke kiri, dan mulutnya mulai bergumam. Ku hentikan sejenak, mama masih nampak terpejam dan tertidur. Kembali kulanjutkan aksiku dan kembali pula pinggul mama bergerak-gerak ke samping dan ...ke atas, seolah-olah menyambut lidahku. Batang penisku kian mendesak celana yang kupakai. Sambil terus menjilati vagina mama, kulepaskan celana pendekku, lalu setengah membungkuk ku arahkan ke mulut liang senggama mama, sempat terjadi peperangan bathin sejenak, antara perasaan bersalah karena menodai mertua sendiri, ibu dari istriku, dan nafsu yang susah diajak kompromi. Antara opsi hanya menggesek-gesekan kontolku di permukaan vaginanya atau benar-benar memasukinya. Akhirnya kupilih opsi pertama, mula-mula ku gesek-gesekan batang penisku di antara belahan vagina mama, namun melihat reaksi mama yang menggumam dan pinggulnya bergerak-gerak membuat aku mengambil opsi terakhir. Ku arahkan kepala jamur penisku tepat di mulut vagina mama, lalu mendorong pantat ke bawah, senti demi senti mulai memasukinya, agak sedikit heran mendapati memek mama masih cukup sempit, sehingga upaya senjata biologisku untuk memasukinya agak tersendat, namun perlahan tapi pasti penetrasi itu tejadi sampai akhirnya batang penisku amblas .

Kunikmati beberapa saat hangat,sempit dan basah liang vagina mama yang kulihat wajahnya mengernyit, lalu kutarik kebelakang, tetapi memek mama seolah-olah menghisapnya kembali. Terus kulakukan gerakan maju mundur hingga kurasakan liang senggama mama mulai memproduksi cairan pelumas, membuat tusukan-tusukan batang kemaluanku kian lancar. Suara gesekan dua organ kelamin kian terdengar dipadu rintihan lirih mama yang seperti tengah mengalami mimpi. Ku singkapkan gaun tidur mama hingga melewati behanya , lalu tanganku segera menyibakan mangkuk bra mama hingga payudaranya terbebas dan kini ikut berguncang pelan akibat gerakanku. Mataku berpesta pora menikmati pemandangan indah dua gunung kembar putih mulus dan cukup besar itu dan segera pula tanganku meraupnya dan meremas-remasnya. Aku yang telah berada pada titik tak munkin kembali siap menghadapi apapun reaksi mama. Kepala ibu kandung istriku itu terlempar ke kanan ke kiri dan rintihannya pun kian meninggi, namun kali ini diwarnai isak tangis dan lelehan air mata. Kali ini aku yakin, mama telah tersadar, munkin sedari tadi. "Mama.." panggilku ditengah deru nafas karena mengeluarkan energi menikmati tubuh sintalnya. Dan sungguh diluar dugaan, mama bukannya marah, namun dengan mata masih tertutup dan berlinangan air mata justru melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya, gaun tidur dan BH nya. Lalu kembali merintih-rintih sambil menggigit pelan jari tangannya. Melihat hal itu segera kutindihkan tubuhku di atas tubuh mama, dan memegang wajahnya ku arahkan ke wajahku, matanya membuka sedikit menatapku dengan pandangan misterius, lalu kulumat bibirnya yang merekah.....dan ia membalasnya sehingga lidah kami saling mengecap dan membelit,"mama...", panggilku, dan mama hanya mengangguk. Membuat ku menambah kecepatan gerakku mengobrak abrik liang vagina tempat asal mula istriku dilahirkan sehingga suara becek dua organ kelamin kian emmenuhi ruangan kamar, tentu saja diiringi melodi rintihan mama dan lenguhanku. AC kamar hotel itu tak mampu lagi menahan panas tubuh kami berdua, peluh kami saling menyatu dari pergumulan tubuh telanjang aku dan mama. Ku lipat kedua paha mama ke atas hingga lututnya nyaris menyentuh payudaranya, menyebabkan tusukan kontolku kian dalam menghujam liang senggama mama dan membuat mama kian histeris,"ooouh...Deni...nngnnnh...ennng",geraka nku kian ganas dan liar mengobok-obok rongga kemaluan mama sampai kemudia tiba-tiba betis mama memeluk pinggangku dan menarik serta menahannya ke bawah sementara lengannya memeluk punggungku erat-erat,"ooooohh...Deniiii,,aahhhh", rintihnya setengah memekik melepaskan emosi dari orgasme yang ia alami. Aku terus bergerak pelan di antara kuncian mama yang beberapa saat kemudian kian mengendur, membuatku kembali liar menikmati setiap senti organ kewanitaanya sampai akhirnya biji pelirku mengerut kaku lalu....satu tusukan terakhir kemaluanku mengantar semburan demi semburan spermaku membanjiri liang senggama mama. Aku lalu rebah di atas tubuh sensual mama mencoba mengatur nafas, mama mengelus-elus punggungku yang bermandikan keringat membisikan kata-kata sayang, bagai gadis muda kepada kekasihnya. Kembali ku lumat bibir mama, sampai krasakan penisku mulai mengecil. Lalu aku beranjak meninggalkan tubuh mama, menyaksikan hasil produksiku segera mengalir keluar dari liang merah merekah di selimuti bulu-bulu jembut itu, menciptakan danau kecil di atas sprei, kemudian berbaring di samping mama. Kami saling memeluk dan memagut bibir masing-masing bak sepasang kekasih yang lama tak bertemu, bukan sebagai menantu dan mertua. "Maafkan saya, ma", ujarku membuka percakapan."ngga Den....maafkan mama juga, mama juga membiarkan hal ini terjadi, jawabnya. 

Lalu mama menceritakan segalanya, bahwa selama beberapa hari ini sebenarnya ia tahu apa yang kulakukan, tapi sengaja membiarkannya, karena...mama pun sudah sangat lama tak lagi mendapatkan kepuasan biologis dan bathin, karena papa mertua lebih sibuk dengan usahanya dan tertimpa penyakit pula. Oleh karena itu mama pun menyibukan diri dengan berbisnis. Mama pun bercerita bahwa kerap rekanan bisnisnya yang kebanyakan juga wanita seusiannya kerap memanfaatkan jasa pria-pria muda untuk memuaskan nafsu masing-masing, bahkan mama juga pernah ditawarkan, namun berhasil menahan diri walau dalam satu kesempatan nyaris terjadi, sempat bercumbu dan nyaris disetubuhi ketika tiba-tiba telpon berdering memberi kabar bahwa papa mertua masuk rumah sakit sebelum yang terjadi sekarang. Dan sungguh tak menyangka justru disetubuhi menantunya sendiri, itulah yang membuatnya menangis karena di satu sisi merasa berdosa dengan anak dan suaminya namun di sisi lain hasratnya yang lama terpendam tak bisa ditahan lagi, dan yang ia dapatkan adalah orgasme pertama setelah belasan tahun tak pernah merasakan lagi. Mama sendiri tersipu-sipu ketika ku sanjung-sanjung kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya meski di usianya yang kepala empat dan telah punya cucu. Kami saling memeluk ,membelai dan saling melumat bibir. Hingga kemudian tanganku mengusap-usap vaginanya dan tangan mama meremas-remas pelan biji pelir dan batang kemaluanku, membuatnya lambat laun kembali tegak perkasa. Dan ronde kedua pun dimulai, kembali spring bed itu berderit-derit dan kamar itu diramaikan suara rintihan mama dan suara kecipak dua organ dibalut lendir saling merasakan kenikmatan masing-masing. Bermacam-macam gaya kami lakukan, mama di atas, aku di bawah, menyamping, doggie style sampai akhirnya mereguk orgasme bersama. Dan kami baru benar-benar kelelahan sampai keempat kalinya melakukan persetubuhan terlarang itu. Aroma sex tercium santer di dalam kamar itu, lalu kami tertidur saling berpelukan dengan kelamin tetap menyatu. Malam itu hubungan kami telah berubah drastis, dari menantu & mertua menjadi sepasang kekasih. Sinar matahari pagi menyilaukan mataku, dengan setengah mengantuk kucoba mengembalikan memoriku, satu tangan mama masih memeluk dadaku sementara kepalanya bersandar di pangkal lenganku, sebelah kakinya juga masih menimpa sebelah pahaku. Wajahnya nampak cantik sekali dan menunjukan kepuasan, nafasnya teratur menghembuskan hawa hangat di wajahku. Menyadari dipeluk wanita setengah baya yang cantik , dalam keadaan telanjang pula, membuat perabotanku kembali menegang keras. Aku beranjak dengan hati-hati untuk duduk, lalu menyingkirkan selimut sehingga sehingga menampakan tubuh bugil mama yang molek itu. Ku remas-remas pelan payudaranya dan ku betot pelan putingnya, membuat senjata biologis ku kian tak bisa diajak kompromi, lalu aku merangkak ke atas tubuh mama, melebarkan kedua paha mulusnya, dengan perlahan kudorong kepala penisku di antara dua bibir vagina mama. Agak susah karena cairan pelumas mama belum keluar namun tetap kupaksakan sedikit demi sedikit, wajahnya nampak meringis, lalu perlahan matanya membuka kemudian tersenyum ke arahku, membuatku langsung melumat kembali bibirnya. Mama membalasnya dengan liar, sementara aku terus berupaya menggali kembali lubang kenikmatan itu yang kini mulai memproduksi lendir pelumas sehingga penetrasi penisku kian dalam sampai akhirnya tinggal dua biji pelir yang tertinggal di luar mulut vagina mama. "...Deni...kamu belum puas juga sayang? Unnnghhh"...rintih mama ketika aku mulai bergerak maju mundur. “belum, mama,,,aku ingin setubuhi mama setiap menit...ahhhss", jawabku diantara nafas menderu penuh nafsu."sshh...Den...puaskan mama, unghh..cumbui mama..sayang..oohh" Pagi itu kembali ranjang kami berderit-derit akibat gerakan terlarang sepasang manusia terbakar nafsu. Suasana dingin pagi itu tak mampu mencegah keluarnya keringat dari tubuh-tubuh aku dan mama mertua. Aroma sex santer tercium sebelum digantikan hawa pagi. Beberapa saat kemudian ku putar tubuh mama hingga membelakangiku, kuambil sepasang bantal lalu kuletakan di bawah dadanya, dalam posisi menungging, kembali kusetubuhi ibu mertuaku yang cantik itu dari belakang, kembali ia merintih-rintih dengan ributnya sehingga terkadang kuberikan jemariku untuk dihisapnya biar tak terlalu ribut. Pantatnya yang bahenol itu bergetar akibat tusukan-tusukan kontolku tanpa ampun ke liang senggamanya. " Ohh Deni...oh Den...ooh..ooh..ahhhhhhhhss", rintihan panjangnya setengah berteriak dan tubuh sexynya yang tiba-tiba mengejang menandakan mama tengah dilanda orgasme. Sampai belasan detik kemudian kembali melemas dan terguncang-guncang oleh hentakan-hentakanku.


Dan semenit kemudian akhirnya kantung pelirku mengeras dan rasa sedikit geli di seputaran leher penisku menghantar datangnya orgasme & ejakulasi spermaku di dalam liang vagina mama."ooohhhhs.....mamaaa....oooohhhh", lalu aku jatuh menimpa punggung mama sambil mencoba mengembalikan irama nafas kembali normal. Kami lalu saling memeluk dan berpagutan cukup lama, sampai kemudian mama berkata," mandi yuk Den, kita siap-siap berangkat", "he-eh ma, yuk".. jawabku sambil beranjak, lalu menggendong mama, mama tersenyum tersipu malu,"ah Deni...kamu romantis sekali sayang" lalu mengecup bibir dan wajahku. Lalu kuturunkan tubuh mama di depan bath tub, dengan tanpa sunkan ia jongkok dihadapanku, lelehan spermaku berjatuhan keluar dari vaginanya sebelum diikuti cairan bening kekuningan air seninya yang mengalir deras. Sungguh suatu pemandangan menakjubkan, lalu aku pun ikut berjongkok dan buang air kecil di hadapan mama yang tertawa kecil melihat ulahku. Lalu kami berdiri dan mulai mandi, saling menyabuni tubuh masing-masing,mengusap-usap dan meremas-remas,,,dan sekali lagi kembali batang kemaluanku menegang ketika digenggam pelan mama dan dikocoknya pelan dengan tangan berlumuran busa sabun. Mama tersenyum dan berkata lirih," Deni...kamu nafsuan banget sih, kok udah berdiri lagi", "salah mama sih," jawabku,"salah mama apa?", tanyanya."salah mama karena terlalu sexy dan nafsuin, mama harus tanggung jawab nih", ujarku. Mama tertawa kecil, menyiram tubuhku dengan handy shower sehingga busa-busa sabun luruh, lalu berlutut di hadapanku dengan tetap menggenggam batang penisku,,,dan hap...mama mengulum dan menghisapnya, dipadu kocokan tangan dan jilatan lidahnya. Membuatku menahan nafas menikmati tindakan mama. Mama terus mengoralku dengan rakus, wajahnya yang cantik penuh nafsu, dan goyangan payudaranya dari sudut pandangku membuatku tak tahan lagi, kuraih tubuhnya, lalu kulumat bibirnya sambil kudorong ke arah shower, kuangkat satu kakinya oleh sebelah tanganku, dan dengan hentakan keras kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang vaginanya, membuat mama menahan nafas kemudian diikuti oleh rintihannya. Di bawah siraman shower dan dalam posisi berdiri kembali kureguk kenikmatan dari tubuh wanita setengah baya yang telah melahirkan istriku itu, dan sekian menit kemudian ku cabut batang penisku lalu memutar tubuh mama hingga membelakangiku, untuk kembali kusetubuhi dari belakang. "ooh...Den..mama udah gak tahan...oooooohhh", demikian rintihnya sebelum tiba-tiba tubuhnya mengejang dan kurasakan vaginanya berdenyut-denyut, membuatku terpacu untuk segera menuntaskan permainan terlarang di kamar mandi itu. Hentakanku kian cepat, membuat payudara mama yang menggiurkan itu berguncang-guncang dahsyat, sangat mubazir jika tak segera kuraup dengan kedua tanganku. Dan akhirnya...hentakan terakhirku menjadi penghantar semburan-semburan spermaku menyiram mulut rahim mama. Lututku melemas serasa tak mampu menopang tubuhku yang bersandar di atas punggung mama yang setengah membungkuk itu, sampai semenit kemudian kucabut senjata biologisku dari liang senggama mama, menimbulkan suara angin mirip kentut diikuti lelehan cairan putih kental yang terjun bebas ke lantai kamar mandi . Kami melanjutkan mandi, saling menyabuni dan mengusap-usap, sebelum berpakaian dan kembali berangkat ke rumah sakit.

Siang itu kami mendapat kabar bahwa kondisi ayah mertua sudah membaik dan bisa pulang besok, suatu kabar gembira sekaligus kabar buruk...karena affairku dengan mama akan berakhir. Di satu sisi aku sedikit lega bahwa petualangan terlarang ini usai, sebagai manusia normal sedikit banyaknya aku merasa bersalah dan tentu saja menjadi beban psikologis tersendiri, namun ibarat koin...di sisi lain aku merasa kehilangan momen-momen indah bersama ibu kandung istriku itu, yang kini terlanjur ku cintai sebagai kekasih. Mama pun aku yakin merasakan hal yang sama, sepanjang perjalanan ia tampak terdiam dan tak bergairah. "Ma..., mikirin apa sih?,tanyaku memancing."Kamu tahu apa yang mama pikirkan Den”, jawabnya. "Ya mau bagaimana lagi ma, apapun alasannya apa yang kita lakukan ini salah, kita telah menusuk papa dari belakang ma," jawabku. "iya...mama juga tahu itu, tapi mama terlanjur cinta sama kamu Den, mama tahu ini perbuatan paling hina di mata orang, tapi perasaan gak bisa bohong," jawab mama...kali ini dengan terisak dan berlinangan air mata. "sssshh....sudah lha ma, kita masih punya waktu sehari kan, tokh kita masih bisa ketemuan di rumah", jawabku. Mama hanya terdiam dan terisak. Setibanya di hotel menjelang senja, kami memasuki kamar dengan lesu. Aku duduk di sofa melepaskan sepatu. Mama sendiri berdiri di depan meja rias melepaskan satu per satu kancing blousenya dengan pelan. Wajahnya tertunduk lemah, kilasan payudaranya yang tertutup BH, membuat hasratku bangkit. Aku beranjak mendekati mama, membantu melepaskan bajunya, kini ia berdiri di hadapanku hanya dengan BH dan celana dalam. Wajahnya masih tertunduk, segera kuraih pipinya, kudongakan wajahnya dan dengan segera melumat bibirnya. Mama yang semula tidak bergairah mulai membalasnya, sehingga lidah kami saling membelit. Segera tanganku melepaskan pengait BH nya dan meloloskannya dari kedua tangannya, payudara yang masih padat berisi itu segera menjadi sasaran dua tanganku. "ohh...Deni...sayang...ohhh", rintih mama di antara nafas yang tak teratur akibat beradunya dua bibir. Tiba-tiba ia mendorongku, "Den..nanti malam aja ya, mama masih keringetan neh..mandi dulu", namun aku segera merengkuh kembali tubuh sensualnya, "aku suka keringat mama”, ujarku lalu menciumi celah di antara payudaranya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, menggigiti pelan putingnya, membuat kepala mama terdongak ke atas sambil terus merintih. Kemudian bangkit mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, sehingga menanpakan ketiaknya yang putih bersih, lalu kuhirup aroma keringat bercampur parfum di situ yang kian membakar gairahku, mama makin menggelinjang dan merengek-rengek. Bulu-bulu romanya bermunculan. Ku putar tubuh mama ke arah meja rias, setengah membungkuk tangannya bersandar di atas meja, aku berlutut, menggigiti ringan pantat bahenolnya meninggalkan prasasti gigi geligiku, mama sesekali menjerit ringan dan berganti menjadi rengekan ribut ketika lidahku menjilati permukaan vagina dan anusnya, tubuhnya sesekali mengejang. "Den....mama udah gak tahan...ooohh", rintihnya ketika dua jemariku mulai mengorek-ngorek liang kewanitaannya ditemani lidahku yang terus mengecap dan menjilati dua rongga tubuh sebelah bawah mama. Aku bangkit berdiri, tampak bayangan wajah mama yang memerah d icermin, mata menyipit dan mulut setengah terbuka menyiratkan dirinya berada di puncak nafsu. Ku gosokan perlahan batang penisku di antara belahan pantatnya sebelum ku arahkan ke gerbang kenikmatan lubang senggamanya. "oooohhh....nnngg...Deni....ooohh", mama mulai merintih-rintih ribut mengiringi suara becek dua kelamin beradu. Wajah mama tampak sayu penuh nafsu dengan jatuhan rambut di sebagian wajahnya, cantik dan sexy sekali ditambah gempa bumi kecil payudaranya yang mengundang tanganku untuk meremasnya. Keringat mulai membanjiri tubuh kami, apalagi ditambah hawa panas kamar karena aku belum sempat menyalakan AC. Meja rias itu turut bergoyang membuat beberapa benda di atasnya terjatuh, berupa beberapa perlengkapan perawatan kulit mama dari merk ternama, salah satunya lotion pelembab yang menggelinding di dekat kaki ku, menimbulkan ide untuk mencoba sesuatu yang baru. Sekian menit berlalu sampai akhirnya tubuh mama mengejang lalu berteriak memanggil namaku diikuti denyutan-denyutan dahsyat rongga vaginanya yang mencengkeram batang kemaluanku.

Mama sudah tiba pada puncak orgasmenya, sementara aku terus mengayunkan pinggulku menggetarkan pantatnya. Ku dekap mama dari belakang lalu ku bisikan kata-kata, "ma...aku mau nyobain anus mama", ujarku, mama yang masih mabuk dengan orgasmenya mengangguk lemah dan menjawab di antara sengal-sengal nafasnya,"pelan-pelan sayang, pake lotion mama, seumur-umur mama belum pernah di anal", jawabnya. Ku pungut botol lotion itu, ku tuangkan isinya lalu kubalurkan di sepanjang batang penisku, juga di permukaan anus mama, kutusukan jari telunjukku ke dalamnya, mama terdorong ke depan dan mengejang,"ohhs...pelan-pelan Deni", ujarnya. Ku tambahkan lotion ke anus mama. "ma...tahan ya, aku masukin nih.", ujarku di tengah dengusan nafas , mama mengangguk. Dengan perlahan kepala jamur penisku memasuki lubang anus yang masih perawan itu, mama menahan nafas dan merintih. Namun se senti demi se senti terus penetrasi, dan tiap tahap menghasilkan jeritan mama," oouuh...pelan-pelan Den...uhhh...sakiit...ahhh", tapi akhirnya seluruh batang kemaluanku ambles ditelan lubang anus mama, kunikmati sensasi cengkeraman sempit rongga belakang mama beberapa saat. Wajah mama tampak meringis dan menggigiti jemarinya. Ku tarik penisku keluar dengan pelan, mama kembali setengah berteriak. Dengan menyisakan kepala kontolku di dalam kembali kubaluri lotion di sekujur batangnya. Lalu kembali ku tusukan ke saluran pembuangan mama. Mama kembali berteriak kesakitan dan gemetar. Ku tarik kembali keluar batang kelaminku,kutusukan lagi, terus dengan eskalasi makin lama makin cepat temponya, reaksi mama mulai relax tak lagi berteriak kesakitan selain mengeluh dan merintih setengah menangis. Cengkeraman anus mama jauh lebih ketat dibanding vaginanya. Aku terus mendesak-desakan penisku ke saluran anal mama, keringat kami kian membanjiri tubuh, punggung mama berkilauan tertimpa cahaya lampu. Ku pegang pangkal lengannya, lalu kudorong mama berjalan ke arah kamar mandi tanpa penisku meninggalkan anusnya, sesekali berhenti untuk ku ayun-ayunkan pinggulku menyetubuhi mama yang pasrah menuruti hasratku. Tepat di dalam kamar mandi, setelah beberapa kali hentakan menjelang tibanya klimaks, kucabut batang penisku, ku putar tubuh mama hingga menghadapku lalu kupaksa berlutut...dan srrt...srttt..srrtt..srrt, cairan spermaku menyembur hinggap di wajah mama dan payudaranya, mama tampak gelagapan menerima kejutan malam itu, munkin ini adalah pengalaman pertama juga sepanjang kehidupan seksualnya. "mmmhhh...Deni...kamu nakal banget sih...abis dah badan dan muka mama kamu kerjain", jawabnya setelah habis orgasme ku. Ku papah ia untuk bangkit, lalu ku nyalakan shower untuk membasuh wajahnya. Setelah itu kami kembali mandi bersama sambil bercumbu. Usai makan malam, selanjutnya bisa ditebak....kami menghabiskan waktu yang tersisa bagai pengantin baru...bersetubuh, istirahat sebentar dengan bercakap-cakap, lalu bercumbu, kembali saling menggapai kenikmatan seksual, seterusnya hingga lewat tengah malam baru tertidur. Apakah hubungan terlarang ini akan berakhir esok?

Thursday, October 19, 2017

Adik Sepupu yang Manja

Langsung saja namaku Wildan umurku 19th t 175 b 65 kulit sawo matang dan lumayan ganteng,ukuran penis 19cm 5cm soal ukuran penis aku tidak bohong karena setiap pagi penisku selalu aku rendam dengan air teh ini aku lakukan atas anjuran temanku agar penis bisa panjang dan besar.
Meskipun kata temanku gak setiap orang berhasil dengan cara itu tapi apa salahnya dicoba dan hasilnya cukup memuaskan penisku kini sudah besar dan panjang.

Ups..kok jadi ngmongin penis mulu,oke..!langsung saja aku mempunyai adik sepupu namanya Arin umurnya baru 13th karena memang beda umur kami 6th,dia sangat cantik dan imut stiap hari selalu bikin aku gemas.

Hubungan kami sangat akrab sudah seperti saudara kandung karena selain rumah kami dekat dan setiap hari selalu bertemu kami juga sama2 anak tunggal.

Sejak kecil Arin sangat manja kepadaku dan aku juga sangat sayang kepadanya,karena memang dari dulu aku pengen adik perempuan tapi ntah kenapa ibuku tidak mau hamil lagi.Dan saat Arin lahir aku sangat senang sekali,setiap pulang sekolah aku selalu main kerumah tanteku untuk bermain2 dengan Arin.

Sampai beranjak dewasa pun Arin tetap manja kepadaku,setiap libur sekolah hari minggu ataupun hari libur lainnya dia selalu tidur dirumahku dan hanya mau tidur denganku.

Bahkan dari kecil aku sering memandikannya jadi pertumbuhan tubuh Arin dari kecil sampai beranjak dewasa aku tau semuanya,dari dadanya yang rata sampai mengembang meskipun belum besar tapi sudah membentuk tapi lucunya puntingnya seperti masuk kedalam jadi ditengah2 aerola yang berwarna pink itu seperti tidak ada tonjolan,kalo memeknya Arin dari kecil sudah tembem dan menggemaskan.

Selain itu kebiasaan Arin dari kecil sampai sekarang baik itu dirumahku atau dirumahnya setiap ada aku saat duduk selalu minta dipangku dan keluarga kami memakluminya karena sudah terbiasa dari kecil.

Katanya lebih nyaman dipangkuanku dari pada duduk sendiri,dan ini awalnya perubahan hubunganku dengan Arin,waktu itu Arin yang sudah kelas 1SMP tidur dirumahku karena besoknya hari minggu.

Setelah makan malam kami sekeluarga nonton tv,ayah dan ibuku duduk berdua dikursi sedangkan aku memilih duduk dikarpet yang ada didepan kursi dan Arin yang datang paling akhir karena gosok gigi dulu langsung duduk,dipangkuanku tanpa permisi karena memang kebiasaanya dari kecil seperti itu.

Ortuku saat melihat Arin berada dipangkuanku tersenyum sambil geleng2 kepala,dan ibu mencubit pipinya Arin sambil berkata "kamu itu lo Rin sudah besar kok masih aja kolokan sama kakakmu" Arin tidak menjawab cuma senyum2 aja dan fokus lagi nonton tv.

Saat seperti inilah sebenarnya menurutku paling menyenangkan memangku Arin,entahlah yang pasti aku merasa nyaman dan kebiasaan saat Arin dipangkuan aku melingkarkan tanganku diperutnya dan mengelus2nya,kalo sudah begitu Arin pun bersandar dan merebahkan kepalanya didadaku,sambil menonton tv kami bercanda dan karena gemas sering aku mencium pipi kanan dan kiri Arin.

Sekitar 1jam kami menonton tv tepatnya jam 9 malam ortuku beranjak kekamarnya mau tidur dan menyuruh kami segera tidur,tapi karena besok hari minggu dan filmnya bagus kalo gak salah Xmen "wolferine" maka kami menolak dan meneruskan menonton tv berdua.

Pada saat adegan difilm ada ciumannya entah kenapa aku juga ingin rasanya berciuman dan setelah mencium pipi kanan kiri Arin tanpa sadar tanganku memegang dagunya dan kutarik pelan agar kepalanya menyamping langsung aku cium bibirnya yang tipis berwarng pink natural itu,cukup lama bibir kami menempel dan setelah bibir kami terlepas Arin menatapku cukup lama dan berkata.

"kok kakak cium bibir adek?"

"itu karena kakak sayang banget sama adek"

Sambil memeluk semakin erat perutnya, Arin pun tersenyum dan kembali fokus kefilm.
Setelah mencium bibirArin untuk pertama kalinya itu ada perasaan dan getaran2 aneh yang selama ini tidak pernah aku rasakan kepada Arin,dan penisku mulai menggeliat berdiri.

Tak tahan ingin mencium bibirnya Arin lagi,aku membisikkan didekat telinga Arin "dek boleh kakak cium bibirmu lagi?" dan tanpa menoleh Arin mengangguk kan kepala.

"kalo begetu adek duduknya menghadap kakak aja" kataku kepadnya.
Arin langsung berdiri menghadapku mengangkangi pahaku kemudian duduk dipangkuanku.

Karena posisi duduk Arin yang mengangkangiku sehingga daster selutut yang dipakainya tersingkap tak ayal penis dan memek Arin menempel berlapis cd nya dan celana bola yang aku pakai saja,hangat aku rasakan dipangkal paha yang saling menempel.

Arin menunduk dan wajahnya memerah,mungkin gugup dan malu karena meskipun hubungan kami sangat dekat belum pernah dalam situasi yang sarat emosi seperti ini.

Aku angkat dagunya kemudian aku cium bibirnya dengan lembut,awalnya hanya kecupan2 lembut saja tapi lama2 aku coba melumat dan menyedot bibirnya,Arin hanya diam saja saat aku lumat dan sedot bibirnya tapi lama2 dia mulai membalas,terjadilah saling sedot dan saling lumat bibir dan terdengarlah berkecipak suara bibir kami yang saling beradu.

Cukup lama kami berciuman sampai nafas kami tersengal2 dan aku mulai melepaskan tautan bibir kami setelah bibir kami terlepas Arin memelukku dan membenamkan wajahnya didadaku.

Suaraku bergetar menahan birahi yang semakin memuncak saat aku mengajak Arin untuk tidur,dia tidak menjawab hanya mengangguk saja,lalu aku matikan tv dengan remot yang ada disebelahku.

Sambil tetap menggendong Arin aku berjalan kekamarku,dan sesampainya dikamar aku rebahkan Arin diranjang tanpa melepas pelukanku jadi aku masih setengah menindihnya.

Tanpa basa basi aku langsung melumat dan menyedot bibir Arin lagi dan langsung dibalas trjadilah saling lumat saling sedot kedua bibir kami,sesekali kumasukkan lidahku kedalam mulutnya mengail2 lidahnya.

Tanpa melepas pagutanku mulai kuayunkan pinggul menggesek memeknya yang masih terhalang cdnya dan celanaku,semakin lama ayunanku semakin cepat dan gesekan itu semakin nikmat kurasakan,mungkin Arin merasakan hal yang sama karena diantara ciuman kami terdengar lenguhan lenguhan nikmat Arin.

eeennggh...eeeehhhhh...eeennnggh.....
aku rasakan cd arin semakin lama semakin basah.

Semakin lama tidak tahan aku merasakan kenikmatan ini,rasanya percumku pun sudah keluar dari tadi.
Akupun melepas pagutan bibirku dan berkata "dek cdnya kakak lepas ya?" Arin hanya mengangguk mungkin juga ingin terus merasakan nikmat ini kembali.

langsung aku lumat bibirnya lagi dan tanpa melepas lumatanku mulai kuturunkan cdnya dan setelah cdnya terlepas aku juga melepas celanaku sambil terus saling lumat dan tetap menindih tubuhnya.

Dan setelah tubuh bagian bawah kami sudah terlepas semua,aku mulai menempelkan penisku dibelahan memeknya melintang keatas mengikuti alur garis memeknya dan mulai aku ayun menggesek gesek secara pelan.

Luar biasa rasanya hangat basah licin dan nikmat,Arinpun tersentak mungkin kaget karena merasakan gesekan antara memeknya dan penisku tanpa terhalang apapun.

Erangan demi erangan mulai terdengar dari mulut kami,dan ciumanku pun tidak hanya dibibir saja aku ciumi seluruh wajahnya,telinganya dan juga lehernya bergantian.

ooohhh...aaaaccchhh....aaaaaaaahhhhh...kak geliii....!

oooohhh....ooohhh...hmmmm....dek enaaaaakkkk.....!

Semakin lama memek Arin semakin basah itu memudahkanku menggeseknya semakin licin terasa,kuayunkan pinggulku semakin cepat.

aaaaccchhh.....aaaaaaaahhhhh.....ooooohhhhhh...adik mau pipis kak...oooohhh..adik mau pi.....pi.....sssss.....aaahhh.....!

Aku rasakan tubuh Arin menegang tangannya memeluk leherku sangat erat kakinya mengapit pinggulku erat2 dan mulai kejang kejang,tak lama kemudian.

sssseeeerrrr....sssseeeerrrr.....sssseeeerrrr.....

semprotan demi semprotan keluar dari memeknya dan membasahi batang penisku yang masih menggesek bibir memeknya,kepalanya mendongak mulutnya terbuka bergetar,matanya membeliak terlihat putihnya saja dan nafasnya tersengal2.

Arin mendapatkan orgasme yang dasyat seumur2 baru pertama kali dirasakannya.
Akupun terus mengayunkan pinggulku menggesek semakin cepat karena aku merasakan maniku sudah diujuk dan siap meledak.

ooooohhhhhh...oooohhh...dek...dek....ooooohhhhhh.....kakak juga mau ke.....ke...luarrrr...
ooohh....enak banget dek!dan.


cccrrrooootttt.......ccccrrrroooot......ccccrrrroooot....
maniku keluar berhamburan diperut rata dan mulusnya Arin,nafasku tersengal2 sungguh nikmat yang aku rasakan.

Setelah nafas teratur dan mani sudah tidak ada yang keluar aku mulai membuka mata dan kupandangi wajah Arin yang cantik dan imut itu yang ternyata sudah tertidur kelelahan.

Aku beranjak dari tubuh Arin mengambil sapu tangan yang ada dilemari,aku bersihkan lendir dan mani di penisku dan kupakai kembali celanaku,kemudian aku bersihkan mani yang ada diperut Arin dan juga lendir dimemeknya,setelah itu aku pakaikan cdnya kembali.

Setelah semua selesai aku berbaring disampingnya,kutarik selimut menyelimuti tubuh kami berdua dan sebelum aku tidur kupandangi wajah cantik Arin yang tampak tertidur dengan tenangnya,kubelai wajahnya setelah itu kuciumi keningnya pipinya dan bibirnya .
"kakak sayang banget sama kamu dek..sayang banget"
Kupeluk tubuhnya sampai aku pun mulai ikut terlelap dalam tidur yanh indah.
pagi pun datang dan saat aku terbangun aku lihat Arin tidur meringkuk dipelukanku.dia pun membuka mata dan tersenyum kepadaku

"selamat pagi kak?"

"selamat pagi sayang?"

"ayo kita mandi dek!"

"ayo kak,tapi mandiin ya?"

"iya kakak mandiin,dasar manja!"

Dan kami langsung berlarian kekamar mandi yg ada di dalam kamarku.
kami sama2 melepas pakaian kami,Arin sangat terkejut saat aku ikut bertelanjang bulat dan melihat penisku yang besar sudah mengacung tegak.

Wajahnya memerah dan sering melirik penisku,aku memang sengaja memperlihatkan kepada Arin agar dia jadi penasaran,aku nyalakan shower dan kuajak Arin berdiri dibawahnya agar kami sama2 basah.

Mungkin karena kejadian semalam,aku melihat tubuh Arin yang basah itu sungguh seksi,entahlah sekarang aku melihatnya bukan sebagai adik kecilku yang imut tapi adikku yang cantik dan membuat penisku berdiri mengeras seperti pentungan!

Kupeluk dia dan langsung kulumat bibirnya dibawah guyuran shower,ooh..penisku menggajal diperutnya aku merasakan penisku menyentuh permukaan yang lembut.

Aku terus melumat dan menyedot bibirnya,hmmm..sungguh nikmat rasanya membuatku tidak tahan lagi,aku ajak Arin mendekat kekloset dan Aku atur tubuh nya membungkuk berpegangan pada kloset persis dogystile berdiri,dia diam saja dan terus mngikuti pa yang aku suruh.

Setelah posisinya sudah menungging aku terpana melihat pantatnya yang tonggeng dan memeknya mengintip malu2,sebenarnya pantatnya Arin belum besar dan semok tapi memang tonggeng kebelakang,hmm..ternyata adik kesayanganku ini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan seksi,menggemaskan sekali.

Aku benar2 tidak tahan melihanya,kuarahkan penisku tepat dibawah belahan memeknya setelah kurasa sudah tepat aku suruh Arin merapatkan kakinya menjepit penisku,mulailah kuayunkan pinggulku maju mundur maju mundur.

wow...rasanya sungguh nikmat selain menggesek memeknya juga terjepit pahanya,cairan memeknya semakin lama semakin banyak,aku yakin Arin pun merasakan kenikmatan juga karena aku menempelkan penisku tepat dibelahanya dan pasti kelentitnya pun ikut tergesek,dan saat kuayun maju penisku mnyundul2 perutnya sensasinya brtambah luar biasa.

ooohhhh....ooooohhhhhh...aaaaaaaahhhhh.....hmmmm....

nikmat sekali kurasakan penisku terjepit pahanya.

owh..heeengh...eeeehhhhh...eeennggh...kak gelii...kak aaduhhh...

Arin semakin erat menjepit penisku.
Kupegang pinggulnya dan semakin kuat genjotanku.

Luar biasa rasanya jepitan pahanya sampai aku tidak tahan lagi ingin meledak.

kaaak...Adek mau pipis eenaak la..la..gi...!

ooohhh...aaaaccchhh...kkaaakk....!

Iya sayang kakak juga mau keeluuaarrrr.....!
kugenjot maju mundur semakin cepat tak betaturan.

ooohh....aaaaccchhh.....oooohhhh....eeeehhhhh......

sssseeeerrrr.....sssseeeerrrr.....sssseeeerrrr.....

cccrrroooottttt...ccccrrrroooot.....ccccrrrroooot....

Secara bersamaan kami orgasme maniku berhamburan kemana2.
Aku langsung menahan tubuh Arin yang lemas dan mau jatuh, setelah badai orgasme mereda aku tarik tubuhnya agar berdiri aku balik segera kupeluk tubuhnya dan kuciumi wajahnya.

"makasih ya dek ini nikmat sekali,kakak bener2 sayang dan cinta sama kamu"

tanpa henti kuciumi wajahnya.

"barusan tadi apa kak? enak banget rasanya..!"

"itu orgasme dek,ada cara lain yang lebih nikmat untuk meraihnya"

"ada yang lebih nikmat?adik mau coba! adik juga sayang sama kakak adik mau kita seperti ini terus! janji ya kak?

"iya nanti kita sama2 mencobanya,iya kakak janji..! kakak juga sangat sayang sama kamu dek,dah..ayo kita mandi..!"

Setelah mandi kami pun keluar dari kamar untuk sarapan,wajah kami pun nampak berseri2 dipagi ini,sampai2 ortuku brtanya2 lagi dapat apa ini anak dua kok ceria banget mukanya,aku dan Arin hanya tersenyum2 saja dan langsung tos tangan.

Pagi yang cerah secerah hatiku,setelah sarapan aku menuju garasi dan mngecek kondisi mobilku, setelah kurasa siap aku memanasi mesinnya karena hari ini aku ingin mngajak Arin jalan-jalan.

Tentu saja hal itu membuat Arin senang sekali,mengingat memang kita jarang keluar berdua untuk jalan-jalan, kerena seringnya kami liburan selalu bersama keluarga.

Persiapan sudah penampilan pun sudah keren, kamipun berangkat tak lupa berpamitan kepada ortu, bruumm..bruumm..suara mobilku meninggalkan rumah,aku berencana mengajak Arin kepantai,diperjalan aku berhenti sebentar untuk membeli camilan dan minuman sebagai teman dalam perjalanan,karena jarak menuju pantai cukup jauh.

Didalam mobil sungguh menyenangkan melihat arin sangat ceria bercerita dan ketawa-tawa kadang bernyanyi mengikuti alunan lagu yang aku putar,dengan mimik dan gerak yang imut dan lucu menggemaskan, sehingga tak jarang membuatku menarik tangannya agar lebih dekat denganku dan mencium pipinya sesekali mengacak-ngacak rambutnya gemas.

Sekitar 2jam sampailah kami dipantai,setelah mendapatkan tempat parkir aku menggandeng tangan Arin menuju tepi pantai dan dia langsung menarikku berlari-lari bermain ombak sampai semua baju kami basah, tak bosan-bosannya Arin bermain air,senang sekali melihatnya ceria seperti itu.

Setelah cukup lama bermain air aku mengajak Arin istirahat berteduh dibawah pohon,kusandarkan tubuhku dibatu karang sambil kupeluk tubuh Arin dari belakang Arin pun menyandarkan kepalanya dibahuku,kami terdiam memandang hamparan laut yang indah dan begitu menghayati kebersamaan dan kemesraan kami.

Saat penisku menempel dipantat Arin yang tonggeng kurasakan ada gejolak birahi yang membuat penisku lama-lama menggeliat berdiri,entahlah semenjak pergumulanku dengan arin semalam membuat persaanku berubah total, setiap lekuk tubuh Arin ataupun setiap bersentuhan dengan tubuhnya menumbuhkan nafsu yang selama ini tidak pernah aku rasakan.

Aku mulai menggesek-gesekkan penisku kepantatnya.

"punya kakak kok berdiri?"

"iya dek,gak tau kenapa sekarang setiap memelukmu punya kakak berdiri..!" dengan suara yang bergetar aku menjawabnya.
Aku melihat sekeliling tidak ada orang dan kurasa cukup aman aku mulai menciumi tengkuk leher dan kupingnya bergantian,tubuh Arin sedikit bergetar dan merinding saat kuciumi daerah sekitar lehernya.

Tanganku yang memeluk perutnya perlahan-lahan merayap keatas dan mulai mengelus buah dadanya yang baru tumbuh dengan lembut, masih kecil setelangkupan tanganku saja tidak penuh tapi kecang dan kenyal, membuatku sangat bernafsu perlahan mulai meremasnya pelan dan terus menggesek penisku dan menciumi lehernya.

"kak oohh..jangan disini nanti ada orang,ohh..kak"
Aku tidak peduli dan semakin bernafsu meremas-remas buah dadanya. Tapi yang tidak aku duga Arin melepaskan diri dan berlari menjauh mendekati Air sambil ketawa mengejek aku yang memerah menahan konak.

"adik nyebelin banget sich..ngerjain kakak..!"
Aku langsung mengejarnya dan terjadilah kejar-kejaran antara kami.

Karena keasikan bermain-main kami sampai lupa waktu, ternyata hari sudah sore akhirnya kami segera berjalan menuju ke mobil mengambil pakaian ganti dan peralatan mandi, dan secara bergantian mandi dan ganti pakaian ditempat mandi umum yang disediakan dipantai itu.

Setelah selesai semua sebelum pulang aku mengajak Arin makan diwarung dekat pantai dengan menu ikan laut bakar, mungkin karena sudah lapar ditambah semilir angin pantai membuat kami nakan dengan lahapnya bahkan aku sampai nambah 1 piring nasi lagi,selain itu ikan bakar lalapannya sangat enak, bersama minuman es kelapa muda, manttaapp....!

Selesai makan kamipun pulang,mungkin karena capek diperjalanan Arin hanya diam mendengarkan lagu-lagu yang mengalun saja, bahkan belum setengah perjalanan Arin sudah tertidur kepalanya direbahkan dibahuku dan terlihat kelelahan.

sesampainya dirumah Arin masih tidur dan aku tidak tega membangunkannya, akhirnya aku gendong dia masuk langsung menuju kamarku, tapi sebelum sampai kamar ibuku menghampiriku.

"malam sekali pulangnya wil?" tanya ibuku.

"iya buk..tadi keasyikan jalan-jalan"

"owh..ya sudah kalo begitu,tu adikmu keliatan capek sekali sampai tertidur begitu, sudah pada makan belum?"

"sudah buk tadi sebelum pulang kami makan dulu, ya sudah ya buk aku pun mau tidur capek"

"ya sudah kalo begitu kalian tidur sana.."

Sesampainya dikamar kubaringkan Arin, aku pun ikut baring disebelahnya, kutarik selimut menutupi tubuh kami berdua, kupeluk tubuhnya dan kupandangi wajahnya.

" Adikku sekarang cantik sekali " gumamku dalam hati.
Kuciumi pipinya kiri kanan, karena memang sejak Arin kecil sampai sekarang aku tidak pernah bosan cium pipinya.

Arin terbangun dan langsung memelukku,

"sudah sampai rumah ya kak?"

"iya sayang ini sudah dikamar"
semakin erat kupeluk Arin.

"kak..katanya tadi hm.." Arin tidak meneruskan ucapanya malah membenamkan wajahny didadaku.

"katanya tadi apa dek..? kok gak diterusin ngmongnya?"

"yang tadi itu loh..kak.."

"yang mana..adikku sayang..? yang jelas dong ngmongnya"

Agak ragu-ragu dan berbisik Arin pun berkata.

"katanya kakak tadi ada yang lebih enak dari pada yang pagi tadi"

"owh..yang itu,mang adek mau?"

Arin hanya mengangguk dan semakin membenamkan kepalanya karena malu.
Ku pegang dagunya dan mulai kukecup bibirnya,Arin langsung membalasnya dan terjadilah freskiss saling lumat saling sedot dan bertukar ludah.

Kubalik kan tubuhnya dan kutindih tanpa melepas ciuman kami,tanganku mulai meremas-remas dadanya, ciumanku mulai turun kelehernya kujilat dan kukecupi seluruh lehernya.

Kubuka kaos dan miniset yang dipakainya karena Arin belum memakai bh, setelah terbuka langsung kuhisap dadanya yang sebelah dan yang satunya tetap kuremas dengan tangan.

Arin langsung menggelinjang dan tubuhnya sedikit bergetar.

ooohh..kak..oochh..gelii..jangan digituin gelii..Arin tidak tahan kak..oohh...

Aku tidak peduli dengan rintihannya terus saja kuhisap dan kuremas bergantian kiri kanan.
Setelah puas dengan dadanya hisapanku dan kecupanku mulai turun keperutnya, cukup lama disekitar perut kulepas celana jeans pendek yang dipakai melewati kakinya dan kulempar sembarangan.

Aku tersenyum melihat cd nya yang berwarna pink renda dan ada gambar hello kity ditengahnya hmm..lucu sekali.
kubuka kakinya mengangkang dan wow..memang tembem memek adikku ini,dari luar cd saja sudah terlihat menggunduk.

Langsung kubenamkan wajahku diselakangannya,kuhisap dan kujilati memeknya dari luar cdnya yang sudah basah kurasakan.

"aaduhhh...duh..duh..punya adik diapain kak..oooohhh..."

Tangannya menggapai kepalaku ingin mendorong menjauhi memeknya tapi tak kuasa menahan nikmat dan geli sehinga membuatnya hanya meremas-remas rambutku saja.

Sudah puas membuat gambar hello kity nya basah,mulai kulepas cdnya dan kukangkangkan kembali kakinya,oohh..indah sekali memek adikku ini,benar-benar tembemmulus tanpa bulu dan putih bibirnya hanya segaris. Mula-mula kuciumi gundukan diatas garis memeknya saking gemasnya aku melihat gundukan itu.

Mulai kumainkan lidahku mengulas garis memeknya kukail-kail dan kucolok-colok dengan lidahku. tubuh Arin langsung menegang dan kakinya langsung menjepit kepalaku.

oooohhh..eeeehhhhh..kak..ampun..geliii..adik gak tahan,oohh....
Aku tidak peduli tetap mengulas dan menyedot tepat digaris memeknya, kemudian kubuka bibir memeknya, astaga..berwarna kemerahan lubangnya kecil mungki jari kelingkingku aja susah untuk masuk dan kelentitnya hanya sebesar kacang hijau.

Aku tidak tahan melihatnya langsung saja kujilati daging kemerahan itu kucucuk lubang kecil itu dan sesekali kujilat dan kusedot kelentit mungilnya.
Tak ayal membuat Arin kelojotan dan tubuhnya semakin menegang, merasakan sesuatu yang baru pertama kali dirasakannya.

aaahhh...ooohhh..enakk banget kak..eenghh..awas! kak..minggir adek mau pi...pissss...oohhh....

Mungkin baru pertama dirasakanya jadi hanya 5 menitan saja Arin sudah mau orgasme, aku semajin cepat menjilat menyedot kelentit dan lubang memeknya.

Aduhh...duhh...minggir kak...ohh..
sssseeeerrrr...sssseeeerrrr...sssseeeerrrr..

cairan bening menyembur pelan membasahi mulutku langsung aku sedot sampai bersih,hhmm..asin dan gurih rasanya.
Setelah badai orgasme mereda kulihat Arin nampak lemes tak bertulang tetapi tersungging senyum kepuasan.

Aku branjak berbaring disampingnya sambil kubelai rambutnya.

"makasih ya kak? ini enak sekali dan baru pertama kali adek merasakan yang seenak ini"

"iya sayang..tapi..?" sengaja ku buat menggantung biar Arin penasaran.

"tapi apa kak?"

"kakak juga ingin merasakan seperti apa yang kamu rasakan"

"apa yang harus Arin lakukan kak..? Arin kan belum tau"

Langsung aku ambil note 3 ku dan kubuka koleksi bfku,sengaja kupilih video blowjob saja.

"Ini adek lihat dulu biar tau caranya..kakak mau ketoilet dulu"

Kuserahkan note 3 ku dan kutinggal ketoile, dan kulihat Arin melihatnya dengan serius.

"sudah tau kan dek caranya?"

Arin mengguk tersipu-sipu malu,kulepas celanaku dan mulai berbaring ditengah tempat tidur, kulebarkan kakiku dan arin langsung bersimpuh ditengahnya, kulihat Arin terpana dan begidik ngeri melihat penisku yang besar panjang dan keras.

Agak malu-malu Arin mulai memegang penisku dan dikocok pelan, oohh..lembut sekali tangannya, percumku mulai meleleh keluar, Arin sedikit ragu-ragu menempelkan lidahnya dikepala penisku dan menjilat cairan yang keluar dari lubang kencingku.

"ooohh..kok dijilat dek?"

"adik penasaran rasanya, difilm tadi keliatanya enak,hmm..rasanya asin tapi adik suka" ada amisnya seperti telur setengah mateng, itu gambaran Arin rasanya peju.
Hehe..ada-ada saja adikku sayang ini.

"kalo begitu nanti kakak keluar adek telen ya pejuhnya" ucapku senang..

Arin mengangguk dan mulai menjilati penisku dari kepala sampai kepangkal batangnya,persis seperti difilm yang ditonton tadi,hmm..rupanya dia cepat belajar dan oohh..rasanya nikmat geli merinding.

"dek jangan sampai kena giginya ya"

Secara perlahan Arin mulai memasuk kan penisku kedalam mulutnya,oohh.. aku semakin bernafsu melihatnya, penis besarku mulai memasuki mulut mungil yang seolah-olah tidak muat menampungnya.

Arin mencoba memasuk kanya lebih dalam tetapi hanya seperempat dari penisku saja yang bisa masuk, Arin mulai menaik turunkan kepalanya serta menghisap penisku.

ooohhh...hmm..aaahhh..enakk..dek..oohh..enakk sekalii..

Tak lupa tangannya mengocok batang penisku yang tidak bisa masuk kedalam mulutnya, akupun membantunya dengan menaik turunkan pinggulku.

oohh..rasanya sungguh nikmat sekali, aku semakin cepat menaik turunkan pinggulku sambil memegang kepalanya.
karena aku merasakan sebentar lagi pejuku akan keluar.

oohh..dek kakak mau keluarr..oohh..aahh..hisap dek..oohh..

ccccrrrroooot...ccccrrrroooot...ccccrrrroooot...

aku menghentak-hentakkan pinggulku.

oohh..telan dek oohh..telaan..

Luar biasa rasanya sungguh nikmat, Arin langsung menelan pejuku dan terus menghisapnya tangannya pu terus mengocok sampai pejuku habis terkuras.

setelah pejuku sudah tidak keluar lagi Arin menghentikan kocokannya dan hisapannya,menjilati kepala penisku sampai bersih.

Kemudian Arin berbaring disampingku dan kutarik selimut menutupi tubuh kami berdua,kukecup keningnya dan kuucapkan "selamat tidur adikku sayang"
Arin tersenyum manis langsung meringkuk dipelukanku sampai kami terlelap penuh kepuasan.